Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Tingkat Kepercayaan Diri Masyarakat Indonesia Dengan Masa Depannya Tertinggi Di Asia Pasifik (Foto: Shutterstock)
Dream - Indonesia menjagai negara paling percaya diri menatap masa depan dibandingkan negara lain di kawasan Asia Pasifik. Kepercayaan diri masyarakat Nusantara bahkan melebih warga dari negara maju seperti Jepang, Hong Kong, dan Australia.
Temuan ini terungkap dari hasil studi LinkedIn Opportunity Index yang dilakukan jaringan profesional terbesar di dunia itu. Studi melibatkan sembilan negara di kawasan Asia Pasifik yang memiliki pengguna 153 juta orang dan 11 juta diantaranya berasal dari Indonesia.
Indeks ini dibuat untuk menjadi tolak ukur dalam memahami respons masyarakat melihat peluang masa depan dan hambatan-hambatannya. Sebanyak 11 ribu responden menjadi objek riset dari indeks tersebut.
Mengutip keterangan tertulis LinkedIn, Rabu, 28 November 2018, masyarakat Indonesia percaya diri terhadap potensi pertumbuhan ekonomi negara serta kondisi yang memungkinkannya untuk mendapatkan akses dan peluang.
Kondisi yang terjadi di kalangan masyarakat Indonesia ini justru bertolak belakang dengan warga Jepang, Hong Kong, dan Australia yang merasa cemas dengan kondisi ekonomi negaranya. Mereka juga menahan diri berharap terlalu besar dalam meraih peluang yang ada.
“ Kami percaya bahwa akses menuju, serta untuk meraih, peluang seharusnya universal dan dapat diakses oleh siapapun,” kata Managing Director LinkedIn ini Asia Pacific, Oliver Legrand.
Menurut Oliver, pertumbuhan jumlah tenaga kerja di Asia Pasifik sejatinya bisa menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi regional jika dikelola secara efektif. Dengan memetakan serta memahami persepsi dan aspirasi masyarakat terhadap peluang di masa depan dan juga hambatannya, LinkedIn berharap dapat memfasilitasi penawaran dan permintaan peluang yang lebih seimbang di pasar.

Dalam studinya terungkap jika 50 persen dari responden di Indonesia berharap bisa merintis bisnis milik sendiri untuk menangkap peluang di masa depan. Keinginan serupa juga disampaikan warga Filipina (53%) yang tertarik untuk berwiraswasta.
Sementara warga negara maju di Asia Pasifik malah sedikit yang ingin memiliki usaha sendiri. Responden di Australia hanya 13 persen yang ingin memulai bisnis sendiri. Begitu pula di Hong Kong (13%) dan Jepang (7%).
Keunggulan warga Indonesia lainnya adalah keyakinan peluang untuk bisa menggunakan kemampuan sebagai aspirasi mereka tertinggi setelah peluang merintis bisnis milik sendiri. Harapan ini disampaikan 38 persen responden yang dinilai.
Kondisi ini tidak mencerminkan aspirasi responden lainnya di tingkat regional, di mana peluang untuk menjaga keseimbangan kehidupan karier dan personal menjadi aspirasi tertinggi.
Sebanyak 40 persen rata-rata responden di Asia Pasifik menginginkan keseimbangan tersebut. Sementara responden di Indonesia hanya dinyatakan oleh 34 persen responden.
Peluang juga tidak selalu terkait dengan usaha personal dalam meraih kesempatan kerja. Lebih dari itu, 82 persen orang Indonesia menyatakan bahwa mereka turut membantu orang lain untuk terhubung dengan kesempatan kerja yang lebih baik. Diantara mereka, lebih dari setengah (56%) menyatakan bahwa mereka membantu memperkenalkan kerabat mereka ke orang yang tepat agar bisa meraih kesempatan kerja, Sementara 47 persen menyatakan bahwa mereka telah menuliskan surat referensi kerja bagi kerabat mereka.
Data ini merefleksikan kultur Gotong Royong yang telah melekat di masyarakat Indonesia, terutama dalam mencapai suatu tujuan, dan juga menekankan pentingnya peran komunitas dalam membantu orang Indonesia untuk terhubung serta meraih kesempatan di masa depan.

Dari segi hambatan, orang Indonesia menilai status finansial sebagai halangan terbesar dalam menggapai peluang. Sama seperti responden lainnya di regional, sebanyak 35 persen dari responden di Indonesia percaya bahwa keterbatasan finansial menjadi halangan terbesar dalam meraih peluang di masa depan.
Sebanyak 29% responden di Indonesia juga menyatakan bahwa kurangnya luasnya koneksi dan jaringan relasi menjadi hambatan terbesar kedua, diikuti oleh rasa takut akan kegagalan (22%).
Namun masyarakat di Tanah Air sangat yakin jika ketekunan adalah model terbesar untujk kemajuan hidup di masa depan. Hal itu dinyatakan 94 persen responden atau di atas rata-rata warga di negara Asia Pasifik (90%). Modal lain yang dianggap penting orang-orang Indonesia adalah adalah kesediaan untuk menerima perubahan (93%), mengenal orang atau memiliki koneksi yang tepat (89%), dan tingkat pendidikan (84%).
“ Hambatan-hambatan yang dikemukakan dalam hal mengejar peluang hidup memang nyata terjadi. Meskipun kawasan ini menunjukan keberagamannya keberagaman, namun jika kita menelisik lebih dalam terdapat lebih banyak kesamaan ketika berbicara tentang aspirasi dan harapan,” imbuh Legrand.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya