7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kini, Facebook Tengah "bersih-bersih" Berita Hoax.
Dream – Akhir-akhir ini, berita palsu marak ditemui di jejaring sosial, termasuk Facebook. Banyaknya berita hoax ini membuat pendiri Facebook, Mark Zuckerberg, menertibkan berita-berita ini dari halaman Facebook.
Dilansir dari Washington Post, Selasa 22 November 2016, langkah ini dilakukan setelah ada kritik yang datang bahwa isi berita yang dibagian via Facebook adalah 99 persen tak asli atau kebenarannya diragukan.
Kritik inilah yang membuat Facebook serius untuk menertibkan berita-berita semacam itu.
Untuk merealisasikannya, Zuckberberg pun menggandeng Google untuk mengambil langkah serius dengan memotong akses lembaga yang mendanai pembuat konten popular. Langkah Facebook ini menimbulkan tanda tanya dan asumsi bahwa kedua raksasa IT ini akan mengontrol berita yang dibagikan kepada seluruh pengguna di dunia walaupun berita-berita tersebut adalah berita bohong atau propaganda terhadap pemilihan presiden.
Anggapan ini meningkat ketika News Feed dan Trending Topic—dua produk utama Facebook—mempromosikan banyak berita bohong, seperti Paus Francis yang mendukung Donald Trump. Itu Facebook.
Lain halnya di Google. Di Google, lebih dari sepekan, kata kunci terpopuler adalah hasil akhir penghitungan suara dari suatu media kurang terkenal. Dikatakan bahwa Trump memenangi pemilu dengan 700 ribu suara untuk voting popular.
© Dream
Direktur Nieman Journalism Lab di Harvard University, Joshua Benton, mengatakan susah menyebut Facebook bukanlah sebuah penyaring berita yang dibagikan kepada banyak orang di seluruh dunia. Jejaring sosial ini, kata Benton, memerlukan mekanisme editorial.
Dia mengatakan suatu artikel menjadi popular ketika banyak orang mengeklik tautan suatu artikel,. Dengan begitu, algoritma Facebook langsung membagikan dan mempromosikan cerita tersebut kepada dunia.
Langkah Google dan Facebook terhadap berita hoax ini tidak berdampak banyak terhadap News Feed dan Google Search Rankings.
© Dream
Pihak Google menolak memberi tahu cara perusahaan mendeterminasi perbedaan berita palsu dan berita akurat. Juru bicara Google, Andrea Faville, mengatakan bahwa perusahaan mereka menggunakan sistem otomatis dan review orang.
Sementara itu, juru bicara Facebook, Tom Channick, mengatakan Facebook tidak terintegrasi dengan iklan atau suatu situs yang mengandung konten ilegal, misleading, dan sebagainya.
Channick mengatakan Facebook telah memperbarui aturan-aturan yang juga berlaku untuk berita palsu.
“ Tim kami akan terus terus mengawasi dan memonitor calon publisher dan publisher yang sudah ada,” kata dia.
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?