Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Menjamurnya penggunaan perangkat pintar di tanah air ternyata menjadi salah satu faktor pendukung meningkatnya jumlah transaksi mobile. Ketertarikan pengguna perangkat pintar semata-mata karena pengaruh lingkaran kepercayaan yakni keluarga dan teman yang sebelumnya telah mencoba layanan tersebut.
Selain melakukan transaksi pembelian, riset yang dilakukan oleh Ericsson ConsumerLab ini juga mengungkap sebanyak 54 persen responden di Indonesia telah menggunakan layanan pengiriman uang melalui perangkat pintar mereka. Riset kali ini menunjukkan kemungkinan meluasnya adopsi mobile commerce di negara berkembang di Asia seperti Bangladesh, Indonesia, dan Vietnam.
Sekitar 97 persen responden di Bangladesh menunjukkan ketertarikan dan 100 persen mengetahui kehadiran layanan transaksi m-commerce. Hal ini tidak terlepas dari popularitas layanan transfer uang bKash yang kian digemari di sana.
Sementara itu sekitar 49 persen responden di Indonesia mengaku tertarik melakukan pengiriman uang mobile dan 35 persen lainnya mengaku mengetahui kehadiran layanan tersebut. Berbeda dengan dua negara berkembang lainnya, ketertarikan dan pengetahuan responden di Vietnam masih relatif rendah yakni hanya sekitar 26 persen dan 19 persen.
Sayangnya meski sudah mulai dikenal dan banyak yang tertarik menggunakan layanan ini, responden di tiga negara masih sedikit menggunakan layanan ini. Sebanyak 4% responden di Bangladesh, dan masing-masing 1% di Indonesia dan Vietnam yang mengaku telah menggunakan layanan transfer uang melalui ponsel.
Hal penting yang ditemui pada riset ini yakni faktor urbanisasi yang mengarah ke banyaknya orang pindah ke kota untuk mencari pekerjaan sehingga menuntut mereka mengirim uang dengan lebih cepat dan dapat diandalkan. Meski begitu di ketiga negara, ekonomi tunai masih diandalkan dalam transaksi sehari-hari.
" Masih banyak penduduk Indonesia yang belum tersentuh layanan perbankan membuat layanan keuangan melalui ponsel atau m-commerce dapat menjadi alternatif utama yang memungkinkan untuk diimplementasi bagi masyarakat yang belum dapat mengakses layanan perbankan," ungkap Hardyana Syintawati, VP Marketing and Communications Ericsson dalam keterangan resmi yang diterima Dream, Kamis 21 Agustus 2014.
Jasa pengiriman uang dan pembayaran tagihan melalui ponsel diprediksi akan semakin diminati. Sekitar 57 persen responden di Indonesia, mengaku tertarik menggunakan layanan pembayaran dan pengiriman uang melalui ponsel.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya