Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Rontoknya kurs rupiah beberapa bulan terakhir menguras dompet Bank Indonesia. Hingga akhir Maret 2015, cadangan devisa (Cadev) turun US$ 3,9 miliar menjadi US$ 111,6 miliar.
Pada bulan sebelumnya, posisi Cadev Indonesia masih berada di level US$ 115,5 miliar.
Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Peter Jacobs mengatakan salah satu pengeluaran terbesar berasal dari stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai dengan fundamental.
" Penurunan posisi Cadev juga dipengaruhi peningkatan pengeluaran untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah," ujar Peter seperti dikutip dari keterangan tertulisnya, Kamis, 9 April 2015.
Data BI menunjukan, sepanjang bulan lalu bank sentral melakukan operasi terbuka dengan anggaran Rp 301,56 miliar. Operasi terbuka salah satunya merupakan instrumen pemerintah untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.
Meskipun turun, bank sentral memastikan posisi Cadev per akhir Maret 2015 itu masih cukup membiayai 6,9 bulan impor atau 6,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Posisi ini juga berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
BI menilai Cadev tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.
Seperti diketahui, rupiah bulan lalu memang sempat mengalami tekanan hebat. Menguat dolar AS sempat merontokan kurs rupiah hingga diatas level 13.000 per dolar AS.
Bloomberg bahkan mencatat kurs rupiah kala itu mencapai level terendahnya sejak krisis moneter 1998. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya