Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Limbah Elektronik Di Asia Menjadi Masalah Yang Mengkhawatirkan.(Foto: Merdeka.com)
Dream – Di Asia, limbah elektronik telah menembus rekor baru. Pertumbuhan gawai yang begitu pesat dan meningkatnya jumlah orang yang mampu membeli barang elektronik menyumbang 63 persen sampah elektronik di Asia.
Yang lebih mengejutkan dari hasil kajian United Nations University tersebut adalah tumbuhan peningkatan sampah elektronik ini terjadi hanya dalam kurun waktu lima tahun.
Dilansir dari CNN Money, Rabu 18 Januari 2017, telepon, komputer, dan perkakas lain berkontribusi 12,3 juta ton limbah elektronik selama 2010-2015. Tiongkok tercatat punya sampah elektronok dua kali lipat.
Faktor lain limbah ini meningkat pesat adalah “ umur” teknologi yang pendek sehingga teknologi tersebut perlu diganti.
Masalahnya, sampah tersebut sering dibuang secara sembarangan dan ini berpotensi bisa merusak lingkungan. Tak jarang produk teknologi mengandung merkuri yang merupakan rancun bagi alam dan mansuia. Lalu, proses pembakaran limbah elektronik akan menghasilkan gas emisi yang berbahaya bagi kesehatan.
“ Ini merupakan titik kritis,” kata seorang co-writer laporan, Ruediger Kuehr.
Kuehr mengatakan negara harus sadar dampak limbah elektronik tidak hanya dilihat dari lingkungan, tetapi juga dari perspektif bisnis dan ekonomi.
Jika sampah tersebut tidak didaur ulang, negara-negara akan kehilangan sumber daya penting untuk menjaga rantai produksi masa depan. Meskipun limbah elektronik mayoritas berasal dari Asia, beberapa limbah dikirim dari negara Barat untuk dibuang atau didaur ulang.
Tapi, berdasarkan investigasi grup aktivitis lingkungan, Basel Action Network, limbah elektronik yang diambil untuk dikirim ke Amerika Serikat, kerap kali berakhir di negara-negara pembuangan seperti Taiwan, Tiongkok, dan Thailand. Masalah limbah elektronik di Asia ini pun dinilai sebagai masalah masif yang harus dipecahkan.
“ Politisi harus menempatkan masalah limbah elektronik sebagai agenda politik untuk meningkatkan kebijakan yang tepat. Pembiayaan yang solid, sistem koleksi yang bagus, serta kerja sama internasional sangat diperlukan (untuk mengatasi masalah ini),” kata dia.(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya