Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
© MEN
Dream - Fenomena pemutusan hubungan kerja secara massal oleh sejumlah startup menarik perhatian salah satu konglomerat Indonesia, Hary Tanoesoedibjo. Menurut dia, hari keemasan startup telah usai.
" The golden days of startup are already over," tulis Hary Tanoe dalam unggahannya di Instagram, dikutip pada Kamis 2 Juni 2022.
Pengusaha berusia 56 tahun ini menjelaskan bahwa indikator bisnis yang sehat dilihat dari kondisi keuangan yang positif. " At the end of the day, healthy business must generate positive cashflow," jelasnya.
Sedangkan, startup biasanya mendapat suntikan dana dari investor. Dana tersebut lalu banyak digunakan untuk 'bakar uang' demi menggaet konsumen baru dengan cepat. Sayangnya, tak semua langkah tersebut berhasil.
Nah hal inilah yang membuat investor yang tadinya fokus pada daya tarik startup, tak mau lagi menambah investasinya. Kondisi ini mempengaruhi arus kas dan harus mengurangi pengeluaran antara lain adalah untuk biaya karyawan.
Direktur Institute for Development of Economics dan Finance (Indef), Tauhid Ahmad, juga menyatakan bahwa fenomena PHK yang terjadi di sejumlah perusahaan rintisan alias startup belakangan ini merupakan upaya efisiensi perusahaan.
" Startup yang melakukan PHK tersebut berarti mengupayakan efisiensi, dan biasanya efisiensi ini terjadi akibat menurunnya pendapatan perusahaan," jelasnya.
Menurutnya, ada dua alasan utama yang menyebabkan perusahaan rintisan mem-PHK karyawannya.
" Alasan pertama, tidak mampu berkompetisi sehingga berujung dengan ketidakmampuan mereka mengikuti demand dari market," tuturnya.
Alasan kedua, yaitu investor saat ini tengah menghadapi tekanan global sehingga mereka tidak mendapat dukungan pendanaan yang sifatnya jangka panjang.
Saat ini perekonomian global memang sedang di fase yang tidak menentu. Situasi inilah yang membuat investor harus mengurangi ekspansi secara umum, termasuk mengurangi dukungan terhadap startup dalam negeri.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya