Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Bisnis penerbangan memiliki peluang bisnis baru. Dimulai Rayani Air, maskapai penerbangan syariah ini mulai banyak menyita perhatian turis, khususnya penumpang muslim.
" Saya mendengar sebuah maskapai dengan konsep Islami dan mereka selalu mengajak salat sebelum terbang," ujar Abdullah Al Mubarak, seorang guru 30 tahun yang tengah menunggu jadwal penerbangan di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia.
Abdullah mengaku tengah berpikir untuk menjadi penumpang tetap maskapai Rayani Air.
" Para pramugari juga mengenakan pakaian yang sopan. Yang tentu saja bagus karena saya terbang bersama anak. Jika pelayanannya bagus, saya mungkin beralih terbang bersama mereka," kata Abdullah.
Rayani Air terbang pertama kali pada 20 Desember. Sebelum Rayani Air telah hadir maskapai serupa seperti Saudi Arabian Airline, Royal Brunei Airlines, dan Iran Air.
Maskapai syariah ini tak melayani minuman/makanan beralkohol, hanya menyediakan makanan hal, dan meminta para pramugarinya mengenakan hijab.
Managing Director Rayani Air mengatakan mereka saat ini baru melayani lima penerbangan rute domestik. Namun mulai berpikir melayani penerbangan internasional pada 2017.
Perusahaan ini akan bersaing untuk meraih porsi wisata syariah yang memiliki nilai US$ 145 miliar. Pada 2020, bisnis ini ditaksir tumbuh menjadi US$ 200 miliar.
Sejumlah maskapai penerbangan dari negeri muslim juga mulai unjuk gigi. Saudi Arabian Airline bahkan berpikir untuk mengubah statusnya menjadi perusahaan publik.
Sementara Emirates dan PT Garuda Indonesia telah melepas surat utang syariah (Sukuk) dengan nilai US$ 12 miliar sejak 2008.
" Traveler muslim mencari layanan dan pengalaman yang sesuai keinginan mereka," kata CEO CrescentRating di Singapura, Fazal Bahardeen mengutip laman Bloomberg, Senin, 25 Januari 2016.
Menurut Fazal, potensi pertumbuhan bisnis ini terbuka lebar karena melarang alkohol, menyediakan makanan halal, dan fasilitas sembahyang.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya