Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Merasa bertanggungjawab dengan kinerja perusahaan yang merugi, seorang miliarder rela memangkas gajinya secara drastis.
Tak hanya si bos, pemotongan gaji juga dikenakan para para petinggi perusahaannya.
Padahal setahun sebelumnya, miliader pemilik perusahaan pembuat mobil elektrik dan Ponsel ini telah habis-habisan menanamkan modal untuk membesarnya bisnisnya.
Khusus untuk si miliarder, dia menegaskan rela hanya diberi gaji sebesar US$ 0,5 atau setara Rp 6680. Gaji itu untuk satu tahun.
© Dream
Miliarder yang bergaji superkecil itu bernama Jia Yuenting. Dia adalah konglomerat pemilik bisnis LeEco. Usai habis-habisan melakukan investasi, kini perusahaannya kehabisan uang tunai.
Jia Yuenting yang bercita-cita menjadi salah satu penguasa bisnis teknologi dunia seperti Elon Musk dengan produk Tesla Motors mengakui perusahaan tengah sakit setelah melakukan ekspansi besar tersebut.
Selama ini LeEco memang banyak harus membayar besar ambisinya untuk memimpin bisnis hiburan sampai otomotif. Ini dilakukan setelah perusahaan mendadak menjadi sorotan dalam beberapa tahun terakhir.
Jia telah membakar uang dengan mendorong bisnisnya ke luar negeri bahkan sampai pasar Amerika.
LeEco juga sudah melakukan langkah Go Public pada salah satu perusahaan Leshi Internet Information and Technology Beijing. Sayang, harga sahamnya jatuh sampai 4,7 persen.
© Dream
Meski tengah menghadapi masalah, Jia menegaskan kondisi keuangan perusahaan mampu mengejar pertumbuhan bisnis.
" Kami sudah mulai melihat penyakit perusahaan-perusahaan besar, seperti kinerja pegawai yang menurun dan organisasi yang kegemukan," kata Jia.
Namun untuk menunjang pertumbuhan positif Eco, perusahaan memang harus memotong biaya serta meningkatkan kontrol biaya dan operasional yang lebih efisien.
Bahkan untuk membantu pendanaan dalam bisnis mobil listrik, adik perempuan Jia sampai harus menjual saham perusahaan . Hal sama juga dilakukan Jia.
Selain memotong gaji, Jia juga berjanji akan memberikan perhatian penu pada anak usahanya di bisnis operator TV.
(Sah/fortune.com)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya