Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Kekayaan
Dream - Enam tahun sejak terjadinya krisis keuangan global 2008, semakin banyak miliarder di Asia yang kewalahan mengelola kekayaannya. Jasa penyewaan penasihat keuangan independen pun menjadi solusi untuk permasalahan para penimbun harta ini.
Gerard Tan, salah seorang eksportir asal Singapura yang menjadi penggemar mobil mewah. Tanpa mau menyebutkan nama aslinya, Tan pernah mengalami kemerosotan aset hingga US$ 20 juta. Uang itu menguap setelah Tan menempatkan dananya di bank yang selanjutnya diinvestasikan di pasar obligasi.
Pengalaman pahit ini menjadi pelajaran berharga bagi Tan dan orang kaya lainnya di Asia. Tak mau mengalami masalah serupa, para miliarder Asia kini beramai-ramai mengalihkan pengelolaan kekayaannya pada jasa penasihat keuangan independen.
Meski tetap menyimpan uang di bank, para orang kaya masih rutin terlibat komunikasi dengan penasihat independen. Apalagi pihak bank kini tak lagi gencar mendorong nasabah membeli berbagai jenis investasi portofolio.
Bahkan sekarang banyak kalangan perbankan mulai bekerja sama dengan para pengelola kekayaan independen. ”Posisi saya direstrukturisasi dan risiko portofolio dikelola. Saya kini merasa lebih nyaman dengan pengelolaan kekayaan saya,” ujar Tan yang merupakan ayah dari dua orang anak.
Justin Ong, konsultan pengelolaan aset Asia Pasifik dari PricewaterhouseCoopers (PwC), mengakui konsep dan peran jasa pengelola kekayaan independen kini tengah menjadi tren di antara kalangan masyarakat kelas atas Asia. " Ini karena ada tuntutan lebih pada transparansi dan layanan yang lebih obyektif," katanya.
Selama ini para miliarder Asia memang masih lebih menyukai investasi dalam bentuk properti, saham dan obligasi. Sementara bentuk investasi lain seperti kapal pesiar, bisnis anggur atau jet pribadi, juga menjadi pilihan bagi kalangan tertentu.
Menurut Mandeep Nalwa, Chief Executive Taurus Wealth Advisors yang berbasis di Singapura, sebelum krisis, kaum kaya Eropa dan AS sudah lebih dulu mengandalkan jasa independen.
Nalwa mengatakan, krisis 2008 membuat kaum kaya Asia menyadari pentingnya jasa penasihat independen. Defisit kepercayaan setelah krisis kini tengah melanda kalangan jetset Asia.
Defisit kepercayaan ini muncul karena lembaga keuangan cenderung mendorong atau mengarahkan masyarakat kaya membeli produk investasi tertentu tanpa membekali pandangan tentang produk investasi.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya