Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Bank Sentral Filipina
Dream - Pemerintah Filipina, negara yang berpenduduk mayoritas pemeluk Katolik ini berencana menerbitkan obligasi syariah atau sukuk untuk pertama kalinya. Hal ini untuk membiayai sejumlah proyek infrastruktur dan meningkatkan kesadaran mengenai keuangan Islam.
Bendahara Nasional Rosalia de Leon menyatakan penerbitan sukuk ini merupakan suatu instrumen yang baru, guna menarik investor Timur Tengah.
Langkah ini diambil negara-negara non-Muslim untuk mengembangkan instrumen pembiayaan secara syariah yang tidak berdasarkan bunga. Sehingga lebih tahan terhadap krisis ekonomi dan volatilitas pasar. Langkah ini dinilai ideal untuk pembiayaan jangka panjang proyek besar.
Inggris, Afrika Selatan , Hong Kong dan Luksemburg merupakan negara non-Muslim pertama yang kini berlomba-lomba menerbitkan sukuk.
Namun untuk Filipina, ide penerbitan sukuk bukanlah sesuatu yang baru. Al Ahmanah Islamic Bank , yang berbasis di Kota Zamboanga di provinsi Muslim selatan Filipina Mindanao, pada awal 2010 datang dengan ide tersebut untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur di daerah termiskin selatan Filipina.
Sayangnya, aturan mengenai pasar keuangan Islam yang masih minim di negara itu membuat penerbitan sukuk masih sulit terlaksana.
Kebutuhan untuk hukum keuangan Islam kini telah diakui bank sentral Filipina. Apalagi adanya kesepakatan damai di Mindanao mengakhiri berbagai pemberontakan di kawasan itu. Hal ini memberikan peluang pembangunan industri perbankan Islam di Filipina.
" Saat ini kami dalam tahap penyusunan aturan bank syariah," ujar Gubernur Bank Sentral Filipina Amando Tetangco M seperti yang dikutip dari Gulf-Times, Rabu, 28 Mei 2014.
Dia menambahkan tengah menyiapkan produk dan layanan inovatif untuk pelanggan. Peraturan baru juga akan memberikan kesempatan bank konvensional untuk meluncurkan produk syariah sehingga bisa tersebar di seluruh kawasan.
Saat ini, aturan di Filipina yang disahkan pada tahun 2000 melarang pembuatan bank syariah. Nantinya, di undang-undang yang baru, tidak hanya dapat mengatur masalah penerbitan sukuk juga, juga membuat pembiayaan infrastruktur lebih mudah sehingga dapat menarik para investor asing terutama dari Timur Tengah.
Misalnya, Qatar dan Filipina yang sepakat membentuk dana investasi sebesar US$ 1 miliar pada tahun 2012 untuk bidang pertanian, energi, makanan halal, tenaga kerja, pertambangan, petrokimia, real estate, baja, pariwisata, perdagangan dan pembangunan infrastruktur.
UEA Abraaj Group juga telah menginvestasikan lebih dari US$ 200 juta untuk sektor logistik, manufaktur, kesehatan dan pendidikan. Pastinya mereka akan sangat tertarik berinvestasi jika Filipina benar-benar menerbitkan sukuk. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya