Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Mimpi `Silicon Valley` Indonesia, Terwujud atau Kandas?

Reporter : Syahid Latif
Rabu, 10 Desember 2014 07:27
Mimpi `Silicon Valley` Indonesia, Terwujud atau Kandas?
Facebook, Twitter, dan Uber ramai-ramai membuka kantor di Indonesia. Mungkinkah mimpi Silicon Valley ala Indonesia bisa terwujud?

Dream - Mimpi Indonesia membangun kawasan industri sejenis Silicon Valley tak sekadar isapan jempol belaka. Meski jauh dibandingkan negara asalnya Amerika Serikat, mimpi Silicon Valley khas Indonesia setidaknya sudah mulai banyak dilirik investor-investor asing.

Bukti teranyar terlihat dari kesuksesan entrepreneur teknologi, William Tanuwijaya yang sukses mendatangkan dua investor terkemuka Softbank dan Sequoia Capital. Dua pemilik modal ini siap menyuntik modal US$ 100 juta pada perusahaan start-up, Tokopedia.

Semula, niat Tanuwijaya sempat mendapat godaan kecil. Investor memintanya memindahkan perusahaan e-commerce ke negara ramah investasi, Singapura.

" Mereka khawatir atas ketidakpastian hukum, rumitnya prosedur administrasi dan penerapan pajak IPO di Indonesia," kata William seperti dikutip Dream dari laman Gulfnews, Rabu, 10 Desember 2014. " Tapi saya tetap bersikukuh tetap di Indonesia karena saya ingin kita melangkah ke depan dan membangun Silicon Valley di sini."

Dengan dana segar US$ 100 juta itu, William ingin mengembangkan Tokopedia yang dijuluki Alibaba Indonesia itu dengan memperbanyak stafnya yang semula 150 menjadi 1000 dalam dua tahun ke depan. Dia juga bermimpi membangun kantor seperti milik Google.

Kisah itu menggarisbawahi hambatan yang dihadapi sektor teknologi baru di Indonesia dan kesediaan investor untuk mengabaikannya, agar bisa mendapatkan pijakan di salah satu pasar e-commerce terbesar di Asia tersebut.

Dilihat dari potensinya, peneliti pasar Frost & Sullivan memperkirakan pengguna internet di negara dengan penduduk lebih dari 250 juta orang, diperkirakan akan tumbuh lebih dari dua kali lipat selama empat tahun ke depan menjadi 68 persen. Hal itu dikarenakan meningkatnya pendapatan dan ketersediaan smartphone China yang lebih murah.

Bao Jianlei, managing director mesin pencari Tiongkok Baidu untuk Indonesia, mengatakan 80 persen orang Indonesia menggunakan Ponsel yang harganya kurang dari Rp 3 juta. Angka ini akan meningkat 40 persen di tahun depan.

Pergeseran ini akan menggerakkan sebuah revolusi retail online, dengan pendapatan e-commerce di Indonesia melonjak dari sekitar US$ 1 miliar tahun lalu menjadi US$ 10 miliar pada tahun 2016, menurut Frost & Sullivan. Ini adalah pertumbuhan yang lebih cepat dibandingkan negara lain di Asia Tenggara.

Sampai saat ini, banyak investor yang terhalang oleh birokrasi pemerintah, kurangnya sistem pembayaran online dan kekurangan tenaga terampil.

Sekarang, semakin banyak pemodal ventura mengalirkan dananya ke Indonesia, mengikuti jejak perintis seperti Rocket Internet dari Jerman, yang menjadi pendukung pengecer online seperti Zalora dan Lazada.

Bukti akan munculnya Silicon Valley dari Indonesia juga ditandai kehadiran perusahaan internet raksasa AS seperti Facebook, Twitter dan Uber. Semua perusahaan ini sudah membuka kantor di Jakarta.

" Kami di sini untuk berinvestasi di negara yang sangat potensial, dengan kelas menengah yang besar dan banyak brand yang ingin menyasar audiens ini," kata Rick Mulia, yang akan memimpin kantor Twitter Indonesia saat dibuka pada Januari 2015 dan didukung oleh sekitar 20 tenaga penjualan.

Harus diakui, mimpi Silicon Valley Indonesia memang harus menyelesaikan sejumlah pekerjaan rumah. Banyak pengguna internet Indonesia yang terhubung menggunakan telepon selular biasa, bukan smartphone dan kebanyakan tidak memiliki akun email.

Hal ini memaksa Twitter dan perusahaan teknologi lain untuk mengembangkan verifikasi dengan nomor telepon atau pesan SMS daripada email.

" Pasar e-commerce Indonesia masih dalam tahap awal jika dibandingkan dengan India dan Tiongkok," kata Hugo Barra dari Xiaomi Indonesia. " Ada begitu banyak potensi, terutama karena kini ada banyak pemikiran segar dan progresif dari pemerintah yang baru."

Tapi eksekutif teknologi lainnya takut bahwa pemerintah baru akan jalan di tempat. Terutama setelah Indonesia melarang perusahaan asing melakukan investasi langsung di ritel online pada bulan Mei.

Pemerintah mengatakan dengan membatasi persaingan asing, akan membantu perusahaan teknologi Indonesia. " Tetapi langkah itu justru menyulitkan mereka untuk mendapatkan modal dan pengetahuan dibutuhkan," kata seorang eksekutif di sebuah perusahaan terkemuka di Silicon Valley.

" Risikonya adalah bahwa ini menjadi bumerang dan start-up Indonesia akan banyak yang lari ke Singapura. Di sana mereka tidak akan membayar pajak kepada Indonesia dan mereka tidak perlu mempekerjakan banyak orang Indonesia." (Ism)

Beri Komentar