Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Unilever Indonesia Angkat Bicara Tentang Sengketa Merek Pasta Gigi. (Foto: Shutterstock)
Dream – Beberapa waktu yang lalu, beredar kabar bahwa PT Unilever Indonesia Tbk digugat karena merek pasta gigi. Perusahaan ini angkat bicara tentang masalah tersebut.
Dikutip dari keterbukaan informasi, Kamis 14 Januari 2021, Sekretaris Perusahaan Unilever, Reski Damayanti, mengatakan perkara itu masih dalam proses hukum kasasi. Hingga saat ini, proses hukumnya masih berjalan.
“ Saat ini, perkara tersebut sedang dalam proses hukum kasasi atas putusan sebelumnya yang dijatuhkan pada bulan November 2002 lalu. Proses hukum kasasi saat ini masih berjalan,” kata Reski di Jakarta.
Sekadar informasi, Unilever digugat oleh Hardwood Privated Limited (di Indonesia dikenal sebagai perusahaan Orang Tua).
Dalam sengketa merek pasta gigi yang dilayangkan di Pengadilan Niaga di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Unilever ditetapkan untuk membayar ganti rugi kepada Hardwood sebesar Rp30 miliar. Atas putusan ini, Unilever mengajukan kasasi kepada Mahkaha Agung.
Terkait sengketa merek pasta gigi, perusahaan consumer goods ini menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Unilever juga berharap hasilnya lancar dan membawa hasil yang adil dan baik.
“ Selain kasus ini belum berkekuatan hukum tetap, kami berpandangan bahwa perkara ini tidak memiliki dampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, keuangan, harga saham, dan atau kelangsungan usaha perseroan,” kata Reski.
Dream - PT Unilever Indonesia Tbk, melalui Unilever Indonesia Foundation menghadirkan Program Sekolah dan Pesantren Sehat.
Digagas sebagai program terintegrasi dari beberapa pembiasaan sejak 2016, tahun ini telah mencapai misi untuk menjangkau 10 juta anak di 41.847 sekolah dan pesantren di berbagai wilayah Indonesia.
![]()
Beragam program pelatihan bagi guru dan murid, serta fasilitas diberikan untuk terus menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada anak-anak sejak dini di lingkungan pendidikan, yang urgensinya kian terasa di tengah pandemi Covid-19.
" Program Sekolah dan Pesantren Sehat berusaha meningkatkan kesehatan dan kebersihan 1,3 miliar orang di seluruh dunia. Di masa pandemi program ini makin relevan sebagai upaya melindungi kesehatan anak, mempersiapkan mereka menghadapi era adaptasi kebiasaan baru, sekaligus menekan penularan Covid-19," jelas Nurdiana Darus, Head of Corporate Affairs & Sustainability Unilever Indonesia, dalam acara virtual konferensi pers, Kamis 24 September 2020.
Penanaman PHBS sangat diperlukan karena anak merupakan salah satu golongan usia yang rentan terjangkit penyakit, termasuk Covid-19.
Bahkan tercatat bahwa jumlah kematian anak (0-18 tahun) akibat Covid-19 di Indonesia tertinggi se-Asia Pasifik, angkanya 1,1% lebih tinggi dari Tiongkok, Italia dan Amerika.
Data lain menunjukkan Indonesia menduduki peringkat pertama terkait proporsi angka kejadian Covid-19 pada anak, yaitu sebesar 9,1%.
Sebagai bentuk kepedulian Uniliver Indonesia Foundation terhadap anak dan lingkungan pendidikan, turut menyumbangkan wastafel permanen untuk cuci tangan dan sikat gigi, serta mendistribusikan produk-produk kebersihan dan kesehatan di area sekolah dan pesantren.
Hal ini dilakukan sebagai upaya mencegah lingkungan pendidikan menjadi klaster penyebaran Covid-19.
" Masyarakat perlu memahami bahwa meski seringkali tidak menunjukkan gejala, anak yang terinfeksi SARS-CoV-2 memiliki jumlah virus dalam darah atau viral load yang tinggi di saluran napas sehingga kemungkinan mereka menularkan individu lainnya sangat besar. Maka untuk meminimalkan risiko ini, biasakan anak melakukan PHBS dengan benar, dan pastikan mereka mendapatkan gizi seimbang sehingga imunitasnya tetap terjaga," jelas dr. Mesty Ariotedjo, Sp.A.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya