Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Seberapa Produktif Orang Indonesia? (Foto: Shutterstock)
Dream – Orang Indonesia terkenal ramah, hangat, dan murah senyum. Karakter dan identitas ini tak hanya melekat di kehidupan sehari-hari, tetapi juga di dunia kerja.
Berbicara tentang dunia kerja, seberapa produktif orang Indonesia?
Dilansir dari Liputan6.com, Jumat 20 April 2018, hasil riset perusahaan konsultan internasional, Robert Walters Indonesia menyebutkan, produktivitas orang Indonesia tertinggal dengan negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Hong Kong.
“ Mereka cenderung menemukan cara efektif ketika bekerja. Orang-orang Indonesia cenderung hangat, ramah, dan murah senyum serta lebih menerima saat diberi instruksi untuk mengerjakan sesuatu. Ini yang membedakan dengan talent di sana,” kata Manager Accounting and Finance Robert Walters untuk Indonesia, Karina Saridewi.
Karina mengatakan, ada satu kekurangan orang Indonesia, yaitu kurang inisiatif. Ini juga ditemukan di karyawan setingkat manajer.
“ Ini mungkin memang bagian dari kultur Timur yang cenderung tidak terbiasa dalam mengekspresikan sesuatu, lebih bebas berbicara, serta spontan mengutarakan hal tertentu,” kata dia.
Sementara itu, Managing Directors Robert Walters Indonesia, Sally Raj, hal inilah yang pada akhirnya membuat orang itu maju dan cepat merespons perubahan.
“ Setiap negara pasti berbeda-beda. Hong Kong, Singapura, mereka berpikir bagaimana bisa cepat, cepat, dan cepat. Tidak ada waktu untuk empati, perasaan, dan emosi,” kata dia.
Raj mengatakan Malaysia juga masih lumayan. Orang-orang di sana masih bisa merasakan empati, berkenalan dengan orang lain dan berbincang-bincang.
“ Hal inilah yang terjadi juga dengan Indonesia. Tapi, inilah yang membuat mereka maju karena hanya berpikir cepat, cepat, dan cepat. Jika tidak, mereka tidak akan sampai pada titik ini,” kata dia.
(ism, Sumber: Liputan6.com/Bawono Yadika)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya