Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Menko Perekonomian Sofyan Djalil (tengah) Berbincang Dengan Menkeu Bambang Brodjonegoro (kanan) Dan Gubernur Bank Indonesia Agus Marto Wardojo (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Dream - Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS merupakan yang terburuk kedua di Asia. Tembusnya rupiah di atas level 13.500 per dolar AS hanya bisa ditimpali senyuman dari Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil.
Diburu jurnalis terkait kondisi kurs rupiah yang hampir menembus level 13.600 per dolar AS, mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara ini justru hanya melemparkan senyuman kepada para jurnalis yang menunggunya.
Terburu-buru meninggalkan kantornya untuk menghadiri rapat, Sofyan hanya menimpali, " yang berhubungan sama BUMN, coba tanya BUMN saja," katanya di Jakarta, Selasa, 11 Agustus 2015.
Sejumlah jurnalis menanyakan sikap pemerintah terkait kebutuhan dolar AS BUMN yang cukup besar. Dana ini dibutuhkan untuk melunasi utang perusahaan pelat merah tersebut.
Sebelumnya, Sofjan Djalil menilai pergerakan kurs rupiah merupakan imbas dari aksi spekulasi pasar. Investor mengantisipasi kemungkinan Bank Sentral AS, The Fed, yang akan menaikkan suku bunga acuannya.
" Kalau Fed Rate naik, ada kesempatan gerakan itu. Dan kita tidak bisa lakukan apapun," ujar Sofyan akhir pekan lalu.
Secara fundamental, Menko mengakui rupiah memang melemah dari nilai yang diperkirakan Bank Indonesia. Hal ini dikhawatirkan akan memicu inflasi dari barang-barang impor.
Untuk mengantisipasi terpuruknya rupiah, SOfyan mengaku pemerintah terus giat mencari sumber-sumber pertumbuhan baru. Salah satu incaran pemerintah adalah menggenjot sektor investasi dengan memberikan sejumlah insentif.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya