Selasa, 20 Oktober 2026 Cari

Siap-siap, Ini 3 `Kejutan` Ekonomi di Tahun Depan

Reporter : Ramdania
Kamis, 20 November 2014 07:31
Siap-siap, Ini 3 `Kejutan` Ekonomi di Tahun Depan
Kejutan ekonomi di akhir tahun masih akan berlanjut tahun depan. Apa saja risiko-risiko tersebut?

Dream - Pasca penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dilanjutkan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) jelang akhir tahun ini, masyarakat harus mulai berbenah. Ekonomi Indonesia masih akan dihantui beberapa risiko ekonomi yang mampu menggerogoti daya beli.

Pengamat Ekonomi Aviliani menyebutkan ekonomi Indonesia akan menghadapi setidaknya tiga risiko yang diperkirakan terjadi pada tahun depan.

Untuk sektor perbankan, pelaku industri kemungkinan akan menghadapi risiko likuditas keuangan pada tahun 2015. Hal ini terjadi akibat tidak adanya kepastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang menjadi acuan ekonomi dunia.

" AS ini kan seperti Indonesia, parlemennya bukan dari partai yang sama dengan Presidennya, jadi segala kebijakan Obama selalu dimentahkan. Akibatnya, tidak ada kepastian, padahal AS ini pusat, segala yang dilakukan AS pasti berpengaruh pada dunia," ujar Aviliani di Jakarta, seperti dikutip Dream, Rabu kemarin.

Ketidakpastian dari Negeri Paman Sam ini membuat potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) pada tahun depan masih mungkin terjadi. Dampaknya pada masyarakat adalah munculnya risiko kenaikan bunga kredit.

" Jadi kalau sekarang tidak dinaikkan, nanti 2015 masih bakal dinaikkan," ungkapnya.

Di sektor riil, Aviliani menyatakan publik Indonesia harus bersiap dengan rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sekitar 15-20 persen pada tahun depan.

" Makanya, ada untungnya juga BBM dinaikkan sekarang, karena tahun depan diperkirakan TDL yang akan naik. Jadi tekanan ke masyarakat tidak terlalu besar," paparnya.

Selain kedua risiko tersebut, Aviliani juga menilai ada beberapa perkiraan kondisi perekonomian tahun depan, seperti nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif, harga komoditas yang cenderung mengalami penurunan, dan regulasi pemerintah yang belum konkrit.

" Harga komoditas meski diperkirakan turun tapi nanti naik lagi. Seperti harga minyak mentah, yang sekarang US$ 80 per barel, tapi rata-rata pasti di atas US$ 100 per barel dalam setahun," pungkasnya.

Beri Komentar