Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
3 Risiko Ekonomi 2014
Dream - Pasca penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi dilanjutkan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) jelang akhir tahun ini, masyarakat harus mulai berbenah. Ekonomi Indonesia masih akan dihantui beberapa risiko ekonomi yang mampu menggerogoti daya beli.
Pengamat Ekonomi Aviliani menyebutkan ekonomi Indonesia akan menghadapi setidaknya tiga risiko yang diperkirakan terjadi pada tahun depan.
Untuk sektor perbankan, pelaku industri kemungkinan akan menghadapi risiko likuditas keuangan pada tahun 2015. Hal ini terjadi akibat tidak adanya kepastian kebijakan ekonomi Amerika Serikat yang menjadi acuan ekonomi dunia.
" AS ini kan seperti Indonesia, parlemennya bukan dari partai yang sama dengan Presidennya, jadi segala kebijakan Obama selalu dimentahkan. Akibatnya, tidak ada kepastian, padahal AS ini pusat, segala yang dilakukan AS pasti berpengaruh pada dunia," ujar Aviliani di Jakarta, seperti dikutip Dream, Rabu kemarin.
Ketidakpastian dari Negeri Paman Sam ini membuat potensi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) pada tahun depan masih mungkin terjadi. Dampaknya pada masyarakat adalah munculnya risiko kenaikan bunga kredit.
" Jadi kalau sekarang tidak dinaikkan, nanti 2015 masih bakal dinaikkan," ungkapnya.
Di sektor riil, Aviliani menyatakan publik Indonesia harus bersiap dengan rencana kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sekitar 15-20 persen pada tahun depan.
" Makanya, ada untungnya juga BBM dinaikkan sekarang, karena tahun depan diperkirakan TDL yang akan naik. Jadi tekanan ke masyarakat tidak terlalu besar," paparnya.
Selain kedua risiko tersebut, Aviliani juga menilai ada beberapa perkiraan kondisi perekonomian tahun depan, seperti nilai tukar rupiah yang masih fluktuatif, harga komoditas yang cenderung mengalami penurunan, dan regulasi pemerintah yang belum konkrit.
" Harga komoditas meski diperkirakan turun tapi nanti naik lagi. Seperti harga minyak mentah, yang sekarang US$ 80 per barel, tapi rata-rata pasti di atas US$ 100 per barel dalam setahun," pungkasnya.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya