Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Duh, Masih Saja Ada Diskriminasi Tentang Berat Badan. (Foto: Shutterstock)
Dream – Diskriminasi di dunia kerja bukan hanya terjadi untuk warna kulit dan orientasi seksual, tetapi juga berat badan. Perbedaaan ini juga masih saja besar di dunia kerja.
Dikutip dari The Ladders, Senin 11 Februari 2019, sebuah studi yang dilakukan di Harvard menunjukkan ada penurunan diskriminasi di tempat keja. Kajian ini berdasarkan data yang diperoleh selama 20 tahun dan berasal dari 4,4 juta tes yang dilakukan selama 2005-2016.
Studi ini menunjukkan diskriminasi terhadap karyawan LGBT turun drastis sebesat 49 persen dan rasial 17 persen. Perbedaan perlakuan terhadap berat badan dan warna kulit hanya turun 15 persen.
Pakar psikologi Harvard University, Tessa Charlesworth, mengatakan, sering ada pembicaraan tentang orang-orang yang berbadan gemuk. Masyarakat melihat orang berbobot ekstra sebagai sesuatu yang bisa dikendalikan.
Dia berasumsi bahwa inilah yang membuat diskriminasi terhadap karyawan itu tidak turun drastis. “ Jadi, terlihat seperti penghakiman moral, ‘Baiklah, kamu hanya perlu berubah’,” kata Charlesworth.
Charlesworth mengatakan, diskriminasi terhadap pegawai gemuk dengan penyandang disabilitas juga sama saja. Dalam kurun waktu 2004-2010, biasnya meningkat 40 persen.
Namun, dia tetap optimistis diskriminasi bisa berubah. Hasil studi menunjukkan sikap implisit bisa berubah pada rentan waktu tertentu. Charlesworth menyebut sikap implisit ini bisa berubah dalam jangka panjang.
“ Penelitian ini penting karena menunjukkan ada perbedaan dari asumsi sebelumnya bahwa sikap implisit adalah hal yang selalu ada di pikiran masyarakat,” kata dia.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya