Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi
Dream - Ekonom Universitas Indonesia (UI) Firmanzah mengkritik pola pembangunan ekonomi nasional yang selalu berorientasi pada prinsip kompetisi. Indonesia seharusnya menganut prinsip Jepang yang sukses membangun negaranya.
Prinsip persaingan saat ini dianggap tak cocok dilakukan di kala situasi pertumbuhan ekonomi yang melambat hingga 4,67 persen serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh level Rp 13.888.
“ Kita perlu semangat kebersamaan untuk menyelesaikan masalah perlambatan ekonomi jangan menjadikan kompetisi sebagai satu satunya jalan untuk menyelesaikan masalah ekonomi,” ujar Firmanzah di Jakarta, seperti dikutip Dream, Senin, 24 Agustus 2015.
Menurut Firmanzah, prinsip pembangunan ekonomi secara kolaboratif inilah yang berhasil membawa Jepang menjadi negara maju. Setelah kalah telak dalam Perang Dunia II, Negeri Matahari Terbit ini mengumpulkan seluruh elemen masyarakat untuk bersatu padu membangun industrialisasi.
Indonesia, lanjut Frmanzah, sebetulnya pernah menerapkan prinsip kolaborasi kala menghadapi krisis moneter 2008. Kala itu pemerintah Indonesia mengumpulkan Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) untuk mendiskusikan jalan keluar dari krisis
“ Saya ingat waktu itu yang diinginkan mereka adalah proteksi pada industri padat karya,” kata Firmanzah.
Mantan Dekan Fakultas Ekonomi UI ini menilai, pola pembangunan ekonomi secara kolaboratif seharusnya bisa diterapkan oleh Indonesia. Pascareformasi 1998, masyarakat Indonesia berkonversi menjadi masyarakat yang amat terfragmentasi.
Alhasil, ego sektoral lebih sering dikedepankan sehingga kesepakatan untuk kepentingan bangsa kerap tidak tercapai.
Secara ekonomi, penerapan model kolaborasi ini jugaa menguntungkan. “ Tingginya kolaborasi dan trust bisa mengurangi the cost of competition,” pungkas Firmanzah.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya