Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Seminar Nasional Political Economy Outlook 2018 (Dream.co.id/Gladys Velonia)
Dream - Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Suwignyo Budiman, mengakui adanya tren penurunan transaksi keuangan di ATM maupun teller oleh nasabah perbankan. Fenomena ini diduga terjadi seiring kemunculan bisnis financial technology (fintech) yang mulai menjamur.
" Transaksi di cabang frekuensinya terus menurun. Maka dari itu jumlah teller dipastikan akan menurun di tahun-tahun mendatang," ujar Suwignyo dalam pemaparan pada Political Economy Outlook 2018, di Sudirman, Jakarta, Rabu, 22 November 2017.
Suwignyo mengatakan dari sejumlah nasabah BCA yang mencapai 14 juta, tercatat hanya 30 persen yang masih menjalankan transaksi lewat ATM. Mereka kini lebih gemar bertransaksi via mobile banking dan internet banking.
" Transaksi yang naik adalah internet banking, mobile banking. Cepat sekali speed tumbuhnya," imbuhnya.
Lantas, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Berdasarkan riset internal BCA, kata Suwignyo, terdapat perubahan perilaku dari nasabah. Selain beralih ke transaksi online, keberadaan fintech mendukung perubahan perilaku tersebut.
" Ngapain datang ke cabang, cuma capek ngantri, mending transaksi saja dari rumah. Kemunculan fintech-fintech ini juga mendukung menjadikan masyarakat manja, menginginkannya semua serba praktis, cepat, dan murah," terang Suwignyo.
Perubahan ini membuat laju uang di bank tidak bertambah secara signifikan. Apalagi sekarang fintech menawarkan transaksi non-bank sehingga bisa diakses semua kalangan.
" Contoh fintech itu seperti Gopay yang diusung Gojek. Baru muncul 2 tahun belakangan, tapi pengguna Gopay sekarang sudah sekitar 11 juta.
Suwignyo pun menunjukkan perhitungan kasar mengenai nilai perputaran uang di Gopay. Dalam hitungannya, maka akan ada uang tersimpan di aplikasi milik Gojek tersebut sebesar Rp1,1 triliun.
" Itu kalau saldo setiap orang cuma Rp100 ribu, pasti banyak yang lebih," kata Suwignyo.
Lebih lanjut, Suwignyo berharap 30 persen penduduk produktif Indonesia yang ada saat ini diperhatikan secara serius oleh pelaku industri perbankan. Dia menilai potensi perbankan masih sangat besar.
" Tinggal bagaimana caranya bank mengikut zaman dengan melihat apa yang dibutuhkan konsumen," tambah Suwignyo.
(Sah)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya