Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
AXIS Nation Cup 2026 Hadirkan Grand Final Futsal Pelajar, Laga Para Juara dengan Panggung Musik di Istora Senayan
Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?
Benarkah Sarden Kalengan Bukan Makanan Olahan? Ini Penjelasannya
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%
Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan
Ilustrasi Isolasi Mandiri. (Foto: Shutterstock)
Dream – Pemerintah masih menunggak biaya hotel untuk isolasi mandiri (isoman) senilai Rp196 miliar. Tunggakan tersebut diungkapkan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sekaligus Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi Sukamdani.
Haryadi mengatakan masih ada 21 hotel di Jakarta yang belum mendapat pembayaran atas jasa layanan Isoman di penginapannya. Pembayarannya masih menunggu persetujuan dari Kementerian Keuangan.
“ Ini proses pembayaran menunggu approval Ditjen Anggaran di Kementerian Keuangan, nanti harusnya masuknya dari BNPB, karena awalnya order dari sana,” kata dia dalam konferensi pers, dikutip dari Liputan6.com, Rabu 21 Juli 2021.
Haryadi berharap pemerintah harus memiliki sistem pembayaran biaya Isoman yang baik apabila masih ingin bekerja sama dengan perusahaan hotel. Salah satu caranya bisa dengan menyontoh pemerintah daerah yang menerapkan sistem pembayaran uang muka.
“ Untuk beberapa daerah seperti Bandung untuk isoman, itu dibayarkan Pemprov, jadi dibayar 50 persen dulu kalau tidak salah. Pembayarannya dua minggu sekali, jadi sudah jauh lebih baik,” kata dia.
Sementara itu, Haryadi mengaku jumlah pasien isolasi mandiri di hotel tidak begitu banyak.
“ Pada kenyataannya, tamu di hotel isoman itu justru sedikit karena banyak yang isoman di rumah, lebih tenang dan bisa mengantisipasi,” kata dia.
(Sumber: Liputan6.com/Athika Rahma)
Dream - Sebuah video viral memperlihatkan satu keluarga menjalani isolasi mandiri akibat positif Covid-19. Tetapi, keluarga ini malah diintimidasi oleh warga sekitar.
Video tersebut pertama kali disebar di Facebook oleh akun dengan identitas Adjie Sudarmaji. Kemudian diunggah kembali di akun Instagram @makassar_iinfo.
Sebagian dari keluarga itu kemudian memutuskan keluar rumah untuk berobat dan mencari makan. Sementara sebagian lainnya tetap di rumah.
Bukannya membantu, beberapa warga justru melakukan intimidasi. Mereka merekam penghuni rumah dan mengeluarkan intimidatif.
" Eh lu kenapa keluar pake motor?" kata warga.
Salah satu penghuni rumah mengatakan anggota keluarganya keluar karena terpaksa. Mereka tidak memiliki obat-obatan sehingga ada memutuskan berobat ke puskesmas.
" Nggak ada obat di sini, mau keluar itu ke puskesmas, bang," kata dia.
Jawaban tersebut malah membuat salah satu warga kesal. Warga sampai memukul pintu teralis dari rumah yang dipakai isolasi tersebut.
Dari keterangan pemilik akun, satu keluarga tersebut terdiri dari ibu dan tiga anak. Si ibu dan dua anaknya dinyatakan positif Covid-19, sementara satu anak negatif.
Anak yang negatif Covid-19 kemudian keluar rumah untuk mencari obat ke puskesmas. Bukannya dibantu, warga justru menyudutkan keluarga tersebut.
Lihat postingan ini di InstagramSebuah kiriman dibagikan oleh INFO VIRAL MAKASSAR OFFICIAL (@makassar__iinfo)
Akun tersebut juga mengunggah klarifikasi dari keluarga tersebut. Pemberi klarifikasi adalah ibu dari tiga orang anak tersebut, yang juga dinyatakan positif.
Awalnya, ibu tersebut dinyatakan reaktif dari hasil tes antibody pada 7 Juli 2021 dan langsung melapor untuk konsultasi ke puskesmas terdekat. Ibu tersebut diminta pulang dan dijanjikan akan dihubungi.
Keesokan harinya, dia bersama tiga anaknya menjalankan tes antigen/ Hasilnya, tiga orang positif dan satu negatif.
Mereka kemudian pergi ke puskesmas namun kembali mendapat jawaban yang sama. Di rumah, mereka pun menutup pintu dan mulai menjalani isolasi mandiri.
" Kamis sore hari kami menunggu pihak Puskesmas yang katanya nanti dihubungi, namun belum juga di hubungi," tulis ibu tersebut.
Ibu tersebut kemudian menghubungi Ketua RT setempat kemudian dimintai data identitas keluarga serta hasil antigen positif. Ketua RT tersebut mengatakan data akan diteruskan ke Satgas Penanganan Covid-19.
Malam harinya, ibu tersebut merasakan sesak di dada kiri. Pagi keesokan harinya, ibu itu memutuskan berobat ke puskesmas setelah menghubungi Ketua RT namun tidak dijawab.
" Saat saya mengeluarkan motor, nah...disinilah kejadiannya: warga menyerang saya dan anak saya, mereka mencegah saya nggak boleh, karena mereka langsung berlaku kasar dan menunjukkan STIKER yang di tempel dirumah saya. Mereka menuduh saya keluar padahal Isoman," tulis ibu tersebut.
Advertisement
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI


5 Kebiasaan Setelah Makan Malam yang Bisa Membantu Menjaga Gula Darah Semalaman

8 Kombinasi Makanan yang Bisa Membantu Tubuh Menyerap Lebih Banyak Nutrisi

5 Negara Paling Beragam Secara Etnis di Dunia, Nomor 1 Punya Lebih dari 800 Bahasa

8 Kebiasaan yang Diam-Diam Bisa Merusak Kesehatan Jantung Menurut Ahli

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Anak Ditinggal Sendirian saat Masih Kecil, Di Mana Batas Kebebasan dalam Pola Asuh?