BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Ada Bukti DPR Tak Pernah Bahas Pasal 18 Ayat 3 PKPU
Dua Survei, Dua Wajah Kepuasan pada Pemerintah
Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya
(Sumber: News.asiaone.com)
Dream - Bau yang kuat dari Balsem Cap Macan (Tiger Balm) menjadi penolong bagi Tommy Lam Wai Yin dan tiga orang lainnya ketika perahu yang mereka tumpangi terombang-ambing di tengah Laut China Selatan selama sembilan hari sejak 3 Mei lalu.
Padahal sebelumnya tidak kurang dari 25 kapal melintas di dekat perahu tempat mereka bernaung selama terdampar di lautan.
Perahu mereka sebenarnya sudah hampir mendekati Kota Belud dan kemudian Labuan. Namun angin menghempaskan perahu mereka kembali ke tengah laut.
Beruntung, di hari kesembilan penderitaan mereka berakhir berkat bau balsem. Karena bau balsem yang kuat itulah, mereka berhasil diselamatkan di perairan Layang-Layang.
" Saya sudah putus asa pada hari kedelapan. Saya mengatakan kepada yang lain untuk mempersiapkan kematian mereka. Saya berdoa kepada arwah nenek meminta bantuan.
" Saya berjanji bahwa saya akan berbuat baik dan mengurus anak cucunya," kata Tommy, ayah dari dua anak dalam sebuah wawancara.
Tidak lama setelah berdoa, Tommy mencium bau balsem dan berpikir itu adalah tanda mereka akan selamat.
" Saya seorang ateis tapi sekarang saya yakin pasti ada kekuatan yang lebih tinggi," katanya. Tommy dinyatakan hilang bersama dua warga Spanyol, David Hernandes Gasulla (29) dan Martha Miguel (30), serta pekerja resor Armella Ali Hassan (23) ketika perahu yang mereka tumpangi terbalik di perairan Pulau Balambangan, Sabah, Malaysia.
Setelah berdoa itulah sebuah kapal nelayan Vietnam melihat mereka dan menyelamatkan mereka. Tommy yang mengemudikan perahu sendiri sebenarnya hendak kembali ke Tanjung Simpang Mengayau dari Pulau Balambangan pada tanggal 2 Mei.
Kembali Sial
© Dream
Namun perjalanan kembali mereka itu sebenarnya sudah dipenuhi kesialan sejak awal keberangkatan.
Saat meninggalkan pulau sekitar jam 17:30 waktu setempat, perahu mereka digulung ombak kuat.
" Gelombang besar melemparkan kami berempat dan perahu terbalik," kata Tommy, menambahkan ia kemudian menyadari bahwa ia tidak mengenakan saklar kontrol mesin perahu di pergelangan tangannya.
" Aku tidak bisa menghentikan mesin karena saya harus menolong Armella, yang tidak bisa berenang," kenangnya.
" Ketika akhirnya berhasil mengembalikan posisi perahu, kami menyadari bahwa semua ponsel kami terendam air laut. Sementara peralatan radio komunikasi terbawa arus."
" Tak lama kemudian kami terlihat oleh pesawat pencari sehingga saya yakin bahwa bantuan akan datang," katanya.
Tapi kembali kesialan menghampiri mereka lagi. Ketika kapal Angkatan Laut Diraja Malaysia menuju ke lokasi, perahu mereka terbawa arus hingga sejauh 1 km.
" Saya tidak tahu mengapa tidak ada yang bisa melihat kami. David bahkan membakar jaket pelampung untuk menarik perhatian," katanya.
Ketika mendekati pantai Kota Belud dan Labuan, perahu kembali terdorong oleh ombak ke tengah laut. Saat itulah Tommy berusaha berenang sejauh enam kilometer ke Labuan.
" Saya mengikatkan diri pada seutas tali dan masuk ke air. Tapi David dan Martha menarik saya kembali karena ada hiu di sekitar kami," tambah Tommy.
Selama sembilan hari, ia mengatakan mereka mencoba untuk tetap positif.
" Saya mengatakan kepada semua orang bahwa ada banyak nelayan di sekitar dan orang-orang akan melihat kami dan bantuan akan datang. Tapi ternyata tidak demikian," katanya.
© Dream
Berbicara tentang bertahan hidup, Tommy mengatakan David dan Martha hampir tidak berpakaian karena pakaian mereka sobek. Sementara Armella terus berzikir dan azan.
Armella menolak untuk makan kerang mentah dan hanya minum air laut yang disuling pada hari kelima.
" Dua ikan terbang mendarat di perahu kami. Kami juga menggunakan tas tahan air untuk menangkap ikan kecil yang mendekat ke perahu kami. Saya langsung sakit perut setelah makan ikan mentah," katanya.
Tommy adalah warga Tiongkok yang juga pemilik resor di Tanjung Simpang Mengayau.
Dia mengatakan tetap akan kembali melaut tapi sekarang tidak berani mengemudikan perahu sendiri.
" Keselamatan sangat penting dari sekarang. Semua perahu saya akan memiliki peralatan keselamatan," katanya.
(Sumber: news.asiaone.com)
Advertisement
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
