Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Mungkin Sahabat Dream pernah mendengar bahwa keputihan yang tidak berwarna dan berbau masih terbilang aman serta wajar dialami. Terutama ketika kelelahan dan perubahan hormon.
Namun demikian jangan menganggap sepele keputihan, terutama jika terjadi terus-menerus dan bau. Pasalnya, keputihan juga bisa gejala kanker serviks atau leher rahim.
"Keputihan sangat normal dialami. Biasanya karena kelelahan, stres atau infeksi kuman," ujar Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Andrijono, di Jakarta, Rabu 13 Februari 2019.
"Keputihan juga bisa karena tumor jinak, kanker atau polip karena kanker bisa mengeluarkan lendir," tambah dia.
Sebuah pengalaman disampaikan anggota komunitas Cancer Information and Support Center (CISC), Untung Endang Suryani. Dia mengalami keputihan dan setelah diperiksa divonis mengidap kanker serviks.
"Tadinya, saya pikir ini gejala menopause. Usia saya kan sudah 50 tahun. Apalagi, tidak berwarna, berbau dan saya rajin pap smear. Tapi, ternyata keputihan terus terjadi. Sampai saya enggak bisa bangun, baru minta ke dokter dan divonis kanker serviks," ungkap Endang.
Dia sempat mencoba berbagai obat herbal yang murah hingga mahal. Tapi, obat-obatan tersebut tidak berhasil memperbaiki kondisinya.
"Saya biasakan konsumsi kunyit putih. Katanya bisa mencegah dan menyembuhkan kanker. Tapi ternyata masih keputihan juga. Sudah coba berbagai obat yang murah sampai mahal tapi hasilnya nggak ada," imbuh Endang.
Untuk mengatasi keputihan, apalagi kanker, tidak disarankan mengonsumsi obat herbal. "Dibutuhkan jumlah yang banyak kalau pakai herbal," ujar Andrijono.
Jika mengalami keputihan dalam waktu yang cukup lama, sebaiknya diperiksa ke dokter dan diobati. Lakukan pemeriksaan pap-smear secara rutin.

"Kalau masih keputihan setelah sembuh, coba tes pap smear dan HPV (human papillomavirus)," saran dr. Andrijono.
Jika hasil pemeriksaan menunjukkan ada virus HPV, segera lakukan vaksin. Vaksin kanker serviks bisa diberikan mulai usia 9 tahun.
"Untuk mereka yang berusia 13 tahun ke atas, 3 kali vaksin dalam kurun waktu setahun. Sekali vaksin sekitar Rp770 ribu," jelas Venita, Ketua Bidang Layanan Sosial Yayasan Kanker Indonesia.
Advertisement
Bagaimana Industri Pangan Mengurangi Limbah? Ini Strategi yang Dilakukan

Mengapa Sampah dari Industri Makanan Berbahaya bagi Lingkungan?

Ekonomi RI Ditekan Perang, Bencana, dan Korupsi, JK: 'Punya Uang Saja Tidak Cukup'

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

IHSG Lanjutan Menguat ke Level 5.387, Saham Bank Pelat Merah Bermekaran


Inggris dan Jepang Minta Warga Siapkan Stok Makanan untuk 3 Hari, Ada Apa?

Benarkah Oksigen di Bumi Bisa Habis? Ilmuwan Perkiraan Kapan Hal Itu Bisa Terjadi

Sering Disalahpahami, Ini Perbedaan Frugal Living dengan Hidup Pas-pasan

Beeru Stevia Diduga Berisi Pemanis Buatan, Apa Risikonya bagi Penderita Diabetes Jika Terkonsumsi?

Pembalut dan Buku Kena Pajak, Barang Apa Lagi yang Tanpa Sadar Dipajaki?

6 Tips agar Perjalanan dengan Bayi Lebih Nyaman dan Minim Drama

Tak Selalu Bawa Sajadah, Inisiatif Ini Bantu Jamaah Salat Jumat Lebih Nyaman