Ilmuwan UGM Temukan Mutasi Virus Corona D614G, Tak Mempan Dihancurkan Imun Tubuh

Reporter : Ulyaeni Maulida
Jumat, 4 September 2020 09:12
Ilmuwan UGM Temukan Mutasi Virus Corona D614G, Tak Mempan Dihancurkan Imun Tubuh
Mutasi ini sebagian besar ditemukan di DIY dan Jawa Tengah

Dream - Tim Pokja Genetik FK-KMK UGM merilis temuan mutasi virus corona D614G. Diungkapkan bahwa mutasi virus D614G ini jauh lebih kuat sehingga tak dapat dihancurkan hanya dengan sistem imunitas tubuh.

Ketua Pokja Genetik FK-KMK UGM Gunadi menerangkan, timnya berhasil mengidentifikasi Whole Genome Sequencing (WGS) empat isolat covid-19. Dari empat isolat ini, tiga ditemukan di DIY dan satu di Jawa Tengah.

Mutasi D614G memiliki penyebaran virus 10 kali lebih cepat dibandingkan saat virus corona belum bermutasi. Meskipun begitu, derajat keparahannya tidak berpengaruh bagi penderita.

" Meski mutasi ini dinyatakan dalam penelitian infitro pada sel itu dikatakan lebih infeksius sepuluh kali. Dan pada pasien yang diteliti di Inggris terbukti bahwa dengan adanya mutasi ini dia jumlah virusnya lebih banyak," ungkap Gunadi.

" Tetapi sekali lagi pada penelitian yang sama yaitu pada sekitar 1.000 pasien di Inggris tidak terbukti berpengaruh pada derajat keparahan," tambah Gunadi.

Derajat keparahan yang dimaksud adalah gejala yang dialami oleh para pasien masih sama saat virus belum bermutasi.

1 dari 1 halaman

Mutasi Virus Paling Fit

Virus Corona© Pixabay.com

 

Gunadi menyebutkan jenis mutasi virus D614G ini tergantung dari kondisi tubuh manusia itu sendiri. Diketahui virus D614G sudah bermutasi, yang berarti virus D614G lebih dapat beradaptasi dengan manusia. Karena sebanyak 77,5 persen sudah terjadi penyebaran secara global.

" Dia bermutasi dalam rangka bertahan hidup, harus survive. Tetapi virus itu sendiri dia berevolusi mengalami mutasi yang awalnya D614 dan menjadi G614 (D614G). Dia yang paling fit sesuai dengan kondisi inang kita. Bahasa awamnya tidak dihancurkan pada imun kita," ungkap Gunadi.

Lebih lanjut Gunadi mengungkapkan bahwa penelitian mendalam masih perlu dilakukan. Terlebih hingga saat ini, vaksin untuk menghentikan penyebaran virus covid-19 masih dalam proses pengujian.

" Bagaimanapun ini virus baru. Perlu penelitian lebih lanjut bagaimana eradikasinya virus ini. Tentunya itu belum bisa dijawab apakah lebih sulit atau bagaimana. Karena vaksinnya sendiri supaya kita lebih tahan infeksi masih uji klinis," pungkas Gunadi.

 

(Sumber: Merdeka.com)

Beri Komentar