Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Olahan Cumi (Foto: Shutterstock)
Kolesterol sebenarnya sangat dibutuhkan bagi tubuh.
Dream - Sate kambing, udang, kerang, bebek, dan olahan cumi, selalu jadi sajian yang sulit untuk ditolak. Seringkali kita terpaksa tak mengonsumsinya karena takut level kolesterol dalam darah meningkat dan berdampak buruk pada kesehatan.
Rupanya hal tersebut tak sepenuhnya benar. Meski sering dianggap buruk, kolesterol sebenarnya dibutuhkan bagi tubuh.
"Jangan takut makan kolesterol," kata motivator kesehatan, dokter Handrawan Nadesul, dalam Health Talkshow di Jakarta Convention Center, beberapa hari lalu seperti dikutip dari Liputan6.com.
Handrawan mengungkap, pada 2016 WHO telah menyatakan bahwa masyarakat dunia boleh mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol. Selain itu, USDA Dietary Guidelines di tahun yang sama juga mengatakan bahwa makanan-makanan tersebut tidaklah berbahaya.
"Silakan bebas makan. Karena kolesterol yang kita makan tidak ada korelasinya dengan meningginya kolesterol dalam darah," ujar Handrawan yang juga seorang penulis buku ini.
Selama ini, menurutnya, anggapan dokter yang meminta masyarakat untuk menghindari berbagai bahan makanan seperti udang, kepiting, dan jeroan tidaklah tepat. Hal yang perlu diperhatikan, tentu saja porsi mengonsumsinya agar tidak berlebihan.
Kolesterol memiliki banyak manfaat bagi tubuh. Beberapa di antaranya adalah untuk perkembangan membran sel dan pembentukan hormon.

"Untuk antioksidan juga perlu kolesterol. Jadi memang kolesterol itu dibutuhkan untuk sebagian dari fungsi tubuh," ujar dokter yang menulis buku 'Sehat itu Murah' tersebut.
Apabila terlalu kolesterol terlalu rendah, hormon menjadi kurang dan sel-sel tubuh tidak sehat. Hal ini karena pembentukan membrannya tidak sempurna.
Menurut Handrawan, kolesterol yang berbahaya adalah yang ada di dalam darah dan membentuk plak. Namun, kolesterol yang terkandung dalam makanan tidak memiliki korelasi dengan hal tersebut.
"Yang harus kita jaga adalah kolesterol dalam darah senantiasa normal. HDL-nya tinggi, LDL-nya rendah. Selama ini terkontrol, sumbatan tidak akan terjadi," ujarnya.
Sumber: Liputan6.com/ Giovani Dio