Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Dream - Hidup serba pas-pasan tak membuat Tarijah menyerah. Nenek 73 tahun ini terus semangat mengumpulkan uang, menabung untuk ongkos haji. Tahun ini, mimpi perempuan asal Nganjuk, Jawa Timur, itu menjadi kenyataan.
Tak mudah bagi Tarijah mengumpulkan biaya. Ditinggal meninggal sang suami lima belas tahun silam, Tarijah hidup bersama satu cucunya di rumah sederhana. Putra semata wayang pun sudah di alam baka karena terserang strok.
Saban hari, usai melaksanakan sholat Subuh pukul 06.00 WIB Tarijah pergi ke pasar untuk berjualan. Dia harus berjalan dua kilometer. Selain nasi aking, dia juga berjualan buku, koran bekas, kayu arang, jagung, bekatul, dan botol bekas.
Penghasilannya pun pas-pasan. Bila pasar lagi sepi, tak ada duit sepeserpun di kantong. Namun kalau ramai bisa sampai seratus ribu. Karena tak menenti, dia harus irit agar bisa menabung.
“ Kalau beli ya mahal, lima ribu dapat nasi sekepel (satu kepal). Jadi ya masak, ngeliwet nasi tiga ons kadang setengah kilo sehari sudah cukup,” tutur Turijah, dikutip dari jatim.kemenag.go.id, Senin 6 Agustiis 2018.
© Dream
Dari jerih payah di pasar itulah sebagian disimpan. Bukan di bank. Tarijah menyisihkan uang-uang itu di bawah bantal dan kasur.
“ Saya tidak tahu bank, bagaimana cara menabung di bank saya tidak tahu. Jadi ya kalau ada uang saya simpan di bawah tikar kasur. Tiap hari kamar itu saya kunci,” tutur Tarijah.
Dia mengaku mulai berniat haji pada 2003. Tujuh tahun setelah itu, duit yang dia kumpulkan sudah lumayan. Bisa untuk mendaftar haji, meski harus ditambah sedikit. Untuk menutup kekurangan, dia meminjam uang kepada orang lain.
“ Uangnya kurang lima juta, saya pinjam uang pada orang untuk nutup daftar haji. Alhamdulillah 8 tahun sampai saat ini, saya bisa bayar nutup biaya ongkos naik haji,” jelas dia.
© Dream
Tak hanya mencari rezeki, di pasar itu pula Tarijah selalu menyempatkan diri membaca Alquran dan buku bekas yang dia jual. Saat berangkat haji, dia menyelipkan catatan doa di buku paspornya. Tarijah mengaku senang mengamalkan beberapa doa dari beberapa buku bekas yang ia jual.
Kini, Tarijah sudah masuk ke Embarkasi Surabaya. Dia tergabung dengan Kelompok Terbang 59.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya