Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Jemaah Haji Indonesia (kemenag.go.id)
Dream - Busana jemaah haji asal Indonesia memang kerap membetot perhatian. Tentu kita masih ingat dengan seragam caping dan motif lurik yang dipakai di Tanah Suci pada awal musim haji.
Dan, kini ada lagi busana jemaah haji asal Indonesia yang menarik perhatian. Kali ini dikenakan oleh jemaah haji wanita anggota Kloetr UPG-5 asal Gowa, Sulawesi Selatan, saat berada di Bandara Jeddah, untuk pulang pada Kamis 30 Agustus 2018.
Siang itu, mereka mengenakan pakaian merah penuh manik-manik. Yang membuat mereka makin mencolok adalah penutup kepala tidak kalah gemerlap. Bukan tanpa alasan, pakaian ini dikenakan sebagai ekspresi kebahagiaan dan tradisi warga di daerahnya sepulang beribadah haji.
“ Nanti sampai di Makassar semua jemaah wanita ganti baju seperti ini,” kata Suryati, dikutip oleh laman haji.kemenag.go.id.
Namun penampilan nge-jreng ini hanya dikenakan oleh jemaah wanita. Para jemaah pria dari Gowa tak turut mengenakan baju yang kerlap-kerlip ini. Hanya ada beberapa yang mengenakan sorban (keffiyah) lengkap dengan ikat kepala (agal) khas Arab.
Muh Abdul Ali misalnya. Dia menjadi salah satu jemaah pria yang menganakan busana gamis putih lengkap dengan keffiyah putih, dan agal melingkar di kepala.
Sementara, petugas pembimbing ibadah dalam kloter ini, Syahrir, mengatakan bahwa pakaian gemerlap yang dikenakan jemaah wanita asal Gowa ini sebagai budaya saja. “ Budaya saja dari jemaah. Kita tetap menghargai pilihan busana mereka,” ujar Syahrir.
Baju-baju ini, tambah Syahrir, tekah dipersiapkan dari kampung halaman. Jadi, tak ada yang dibeli di Arab Saudi. “ Seacara pribadai saya tekankan ke jemaah yang penting aurat tertutup dan rapi, tidak harus terlalu mewah.”
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya