Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Jemaah Haji Indonesia (MCH)
Dream — Menjadi jemaah haji khusus bukan berarti bisa mendapat pelayanan istimewa. Pengalaman pahit bahkan dialami oleh jemaah haji asal Bantul, Yogyakarta, Sugiyanto, yang berangkat ke Tanah Suci dengan jalur khusus.
Sugiyanto dan sang istri, Endang, mendaftar haji jalur khusus pada sebuah agen pada 2013. Dia memilih haji khusus meski masing-masing harus membayar Rp137 juta.
“ Jika mendaftar reguler sangat lama waiting list-nya,” ujar Sugiyanto, Kamis 30 September 2018.
Namun, mahalnya jalur ini tak sebanding dengan layanan yang diterima Sugiyanto. Saat di Mekah, dia harus tinggal bersama ratusan jemaah di apartemen transit di kawasan Khalidiyah, lima kilometer dari Masjidil Haram.
Jarak itu jelas lebih jauh ketimbang lokasi pemondokan jemaah haji reguler yang maksimal tiga kilometer dari Masjidil Haram. “ Kami tinggal di sini (apartemen transit) sudah sepuluh hari,” kata dia.
Apartemen transit digunakan jemaah haji khusus sebelum dan pasca wukuf di Arafah. Jangka waktu pengunaannya maksimal lima hari. Selain lokasi tinggal yang jauh, kawasan tinggal Sugiyanto juga sepi angkutan umum.
Di kamar apartemen itu, Sugiyanto harus tinggal bersama enam orang dalam satu kamar. Padahal, ruangan itu mestinya diisi empat manusia saja.
“ Kami kemarin berenam, kini tinggal empat karena satu meninggal, satu pindah kamar,” ujar Sugiyanto.
Yang mengagetkan, jemaah yang meninggal terjadi saat di kamar mandi kamar itu. Teman sekamar Sugiyanto sempat memfoto jenazah ditemukan dalam kondisi duduk terkulai lemas.
“ Kami menunggu di depan kamar mandi, dan terpaksa didobrak oleh petugas apartemen,” tutur dia.
Setelah diperiksa dokter dari Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) jenazah jemaah itu hanya dibaringkan di atas lantai dengan ditutupi selimut. Kondisi itu dibiarkan begitu saja sejak pukul 14.00 hingga 20.00 waktu Arab Saudi.
“ Baru kemudian datang direktur agen travel dan membawa jenazah untuk dimakamkan,” tuturnya. Selama enam jam Sugiyanto harus tinggal sekamar dengan jenazah itu.
Berdasarkan, Certificate of Death (COD) penyebab kematian jemaah berusia 75 tahun itu adalah Endocrine, nutritional and metabolic diseases.
Penanganan jemaah yang meninggal itu menjadi bukti kurangnya tim kesehatan untuk seluruh jemaah haji khusus, jalur Sugiyanto berangkat.
Sugiyanto mengatakan hanya ada satu dokter yang menangani seluruh jemaah. Padahal, menurut Peraturan Menteri Agama nomor 2011, Pasal 17 ayat (3) pelayanan kesehatan haji khusus dilakukan dengan menyediakan satu orang tenaga dokter untuk paling banyak 90 jemaah.
Petugas haji khusus, Muhammad Fandi Abdillah, menyebut lamanya waktu di apartemen transit karena ketersediaan tiket kepulangan yang ada. “ Untuk sekamar dihuni enam orang karena memang komposisi kamar dapat diisi enam orang dengan kamar mandi dalam dan di luar,” ujar dia.
Mengenai pemilihan lokasi apartemen transit yang jauh dari Masjidil Haram, Fandi menjelaskan keputusan itu merupakan wewenang kantornya. “ Pihak kantor yang menentukan lokasi, silahkan menghubungi pihak kantor saja,” kata Abdillah.
Kepala Bidang Pengawasan PIHK Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Mulyo Widodo, mengatakan ,telah menyurvei langsung ke sejumlah apartemen transit haji khusus. Dari pantauannya, ditemukan jemaah tinggal di apartemen transit lebih dari lima hari.
“ Kami menemukan pula satu kamar dihuni enam orang, tetapi memang ruangannya besar,” ujar Widodo, dalam keterangan tertulis yang diterima Dream.
Selain, kendala ruangan jemaah juga mengeluhkan masalah lift yang terbatas.
Widodo mengatakan, minimnya pengawasan terhadap jemaah haji khusus disebabkan jumlah personel yang terbatas.
“ Jika ada unsur pelanggaran yang ditemukan, kami akan melakukan klarifikasi dan tindakan, dengan dasar aduan jemaah dan fakta di lapangan,” ujar Widodo.
Laporan Maulana Kautsar dari Tanah Suci
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya