Memudarnya Keindahan Taj Mahal

Reporter : Eko Huda S
Selasa, 16 Desember 2014 19:03
Memudarnya Keindahan Taj Mahal
Permukaan yang terbuat dari marmer putih tak lagi mengkilap. Marmer-marmer itu kini kusam. Terlihat lebih coklat.

Dream - Salah satu ikon India adalah Taj Mahal. Bangunan ini telah menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya. Mereka terkagum-kagum dengan keindahan arsitektur yang didirikan oleh Raja Mughal, Shah Jahan, untuk mengenang istri ke tiganya, Mumtaz Mahal, ini.

Namun belakangan bangunan yang didirikan 460 tahun silam ini menghadapi masalah. Permukaan yang terbuat dari marmer putih tak lagi mengkilap. Marmer-marmer itu kini kusam. Terlihat lebih coklat.

Dikutip Dream dari laman Daily Mail, Selasa 16 Desember 2014, para ilmuwan menemukan partikel-partikel debu dan jelaga dari pembakaran kayu dan sampah di dekatnya menempel ke permukaan bangunan terkenal ini.

Masalah ini menjadi serius karena partikel-partikel ini tidak larut dalam air. Sehingga sangat sulit untuk dihilangkan. “ Partikel-partikel ini super kecil dan melekat di permukaan dengan sangat baik,” kata insinyur lingkungan dari Georgia Institute of Technology, Atlanta, Mike Bergin.

Sejumlah pekerja berinovasi dengan melulurkan tanah liat ke permukaan marmer di bagian kubah. Cara ini dilakukan karena memang susah untuk menghilangkan partikel yang menyelimuti permukaan marmer itu dengan air. Namun begitu, tahun demi tahun, warna Taj Mahal terus memudar.

Para ilmuwan berpikir keras untuk menyelamatkan keindahan bangunan bersejarah yang terletak di Agra, India ini. “ Ada beberapa kekhawatiran dampak jangka panjang terhadap proses pembersihan kubah,” ujar Bergin.

Memudarnya Keindahan Taj Mahal© Daily Mail

Bergin bersama ilmuwan dari Institut Teknologi India dan peneliti arkeologi Tanah Hindustan itu melakukan penelitian. Mereka meletakkan balok marmer di dekat Taj Mahal dalam waktu setahun. Setelah itu, para ilmuwan itu meneliti partikel yang menempel di permukaan marmer itu.

Hasilnya, para peneliti menemukan partikel karbon organik yang dikenal dengan sebutan karbon coklat, debu, dan karbon hitam. Partikel-partikel ini tidak larut dalam air, yang artinya tidak mudah hilang dengan hanya disiram air saja.

Penelitian itu juga mengukur jumlah cahaya yang dipantulkan oleh partikel-partikel itu, dan dari penelitian ini diketahui bahwa partikel-partikel inilah yang menyebabkan memudarnya marmer Taj Mahal.

“ Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa cahaya diserap oleh debu dan karbon dari pembakaran bahan bakar fosil dan biomassa yang menyebabkan perubahan warna pada permukaan Taj Mahal,” tutur Bergin.

Sehingga, Bergin menyimpulkan untuk menghentikan memudarnya peninggalan yang dibangun antara tahun 1632 dan 1653 ini adalah mengurangi emisi di sekitar Taj Mahal. Satu-satunya cara menghentikan memudarnya warna adalah mencari sumber partikel dan mencari cara untuk mengurangi emisi,” kata Bergin.

Sebenarnya, pemerintah India telah menetapkan wilayah seluas 4.000 mile persegi di sekitar Taj Mahal sebagai wilayah bebas industri. Harapannya, bangunan yang pada 1983 ditetapkan sebagai situs peninggalan dunia oleh Unesco ini terbebas dari debu-debu pabrik.

Namun nyatanya, permukaan marmer-marmer yang diambil dari Makrana, Rajasthan, ini terus memudar oleh partikel-partikel hasil pembakaran.

Beri Komentar