Belajar dari SBY, Begini Cara Ubah Janji Kampanye Menjadi Program Nyata Pemerintahan
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Ilustrasi (Sumber: Airliners.net)
Menyelamatkan diri dengan parasut bukanlah sebuah pilihan. Malah berakibat lebih fatal.
Dream - Pesawat-pesawat khusus seperti pesawat militer umumnya dilengkapi dengan parasut untuk mengantisipasi kemungkinan munculnya kecelakaan. Parasut itu berfungsi sebagai alat penyelamat awak pesawat.
Namun kini muncul pertanyaan, mengapa pesawat komersil tak dilengkapi pula dengan parasut?
Dilansir dari Todayifoundout.com, para penerjun biasanya menggunakan parasut saat terjun dari pesawat yang mengudara dengan kecepatan antara 128 hingga 177 km per jam, dengan ketinggian maksimal 15 ribu kaki.
Di atas ketinggian itu, penerjun berisiko menderita hipoksia, atau mengalami kekurangan oksigen pada jaringan tubuh, dan harus menggunakan tabung oksigen tambahan.
Terjun dengan mengenakan parasut juga bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Parasut memiliki berat sekitar 18 kg.
Jika pesawat komersil memiliki 200 tempat duduk dan harus menyediakan parasut bagi setiap penumpang, pesawat harus menyediakan tambahan bahan bakar untuk membawa beban total parasut seberat 3,6 ton setiap kali melakukan penerbangan.
Selain itu, penerjunan hanya memungkinkan bila dilakukan pada saat pesawat melaju di udara. Sementara kecelakan fatal sebagian besar terjadi saat pesawat lepas landas atau mendarat.
Dari catatan, antara tahun 2003 hingga 2012, hanya ada tujuh kecelakaan fatal yang terjadi saat pesawat mengudara. Ada pula kecelakaan di udara yang terjadi akibat cuaca buruk. Penerjunan tentu akan menjadi sangat berbahaya dalam situasi seperti ini.
Pesawat selama ini mengangkasa di ketinggian serta kecepatan yang amat tinggi, yaitu di ketinggian 35.000 kaki dengan kecepatan hingga 900 kilometer per jam. Jadi, menyelamatkan diri dengan parasut bukanlah sebuah pilihan. Malah berakibat lebih fatal.