Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
(Foto: Wikipedia.com)
Dream - Sahabat Dream, pasti sudah kenal dengan peci songkok, kan? Penutup kepala yang menjadi ciri khas bapak proklamator Indonesia ini konon telah ada sejak abad ke-13 silam.
Para pedagang Arab ‘mengenalkan’ peci songkok melalui perdagangan di Semenanjung Malaya, maka, jangan heran apabila atribut yang satu ini menjadi salah satu ciri khas dari rumpun melayu.
Tapi, sahabat Dream sudah tahu belum mengapa peci songkok ini bisa menjadi salah satu benda ikonik di Tanah Air?
Seperti yang dilansir dari laman wartamadani.com, peci memiliki sejarah yang sangat kental dengan pergerakan nasional bangsa Indonesia. Dalam hal ini, Bung Karno memang menjadi pelopormya.
Dalam buku otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno bercerita bagaimana ia bertekad mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Di masa itu kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan memakai blangkon, misalnya, tutup kepala tradisi Jawa.
Jika kita lihat gambar Wahidin dan Cipto memakai blangkon, itu sebelum 1920-an. Ada sejarah politik dalam tutup kepala ini. Di sekolah “ dokter pribumi”, STOVIA, pemerintah kolonial punya aturan: siswa inlander (pribumi) tak boleh memakai baju Eropa.
Maka para siswa memakai blangkon dan sarung batik jika dari ”Jawa”. Bagi yang datang dari Maluku atau Menado, misalnya, lain. Bagi siswa asal Manado atau Maluku, yang biasanya beragama Kristen, boleh memakai pakaian Eropa: pantalon, jas, dasi, mungkin topi.
Dari sejarah ini, tampak usaha pemerintah kolonial untuk membagi-bagi penduduk dari segi asal-usul “ etnis”dan “ agama”. Maka banyak aktivis pergerakan nasional menolak memakai blangkon. Apalagi mereka umumnya bersemangat “ kemajuan”, modernisasi.
Jadi penolakan terhadap kostum tradisi mengandung penolakan terhadap politik kolonial “ divide et impera” dan penolakan terhadap adat lama.
Ternyata peci songkok lebih dari sekadar simbol busana muslim atau agama, melainkan juga sebagai simbol kesatuan bernegara.
Walaupun telah ada sejak berabad-abad lalu, pesona peci songkok yang khas ini tidak pernah pudar ya sahabat Dream. Bagaimana? Semakin tertarik untuk memiliki peci songkok? Yuk mampir ke blanja.com untuk mendapatkan peci klasik yang kaya akan sejarah ini. (Webtorial)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya