Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series
Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu
7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya
Kenapa Tikus Suka Bersarang di Mesin Mobil, dan Cara Mengusirnya untuk Selamanya
Dua Seniman Indonesia Raih Grand Prize MR.D.I.Y. Regional Art Competition 2026
3 Suplemen yang Diam-Diam Bisa Mengganggu Tidur, Salah Satunya Sering Dikonsumsi
MK Sudah Putus, Drama Ijazah Gibran Belum Tamat
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?
Komunitas Hutan Itu Indonesia / Foto: Instagram @hutanituid
DREAM.CO.ID - Selama ini, apa yang terlintas di benak Sahaabat Dream kalau mendengar kata " hutan" ? Mungkin sebagian besar akan menjawab kebakaran lahan, penebangan liar, asap, atau konflik sengketa tanah yang rumit yang membuat anak muda yang tinggal di kota besar merasa jauh, tidak relate, atau bahkan apatis.
Narasi tersebut berusaha diubah total oleh sebuah gerakan bernama Hutan Itu Indonesia (HII). Gerakan ini datang dengan pendekatan yang segar, penuh warna, dan fun. Mereka percaya bahwa untuk menjaga hutan, kita tidak harus memulainya dengan rasa takut, tapi dengan rasa cinta.
Hutan Itu Indonesia tidak muncul begitu saja. Gerakan ini lahir pada tanggal 22 April 2016, bertepatan dengan Hari Bumi. Namun, benihnya sudah tumbuh setahun sebelumnya. Pada 2015, sebuah penelitian mengungkap bahwa mayoritas responden ternyata tidak menganggap hutan itu penting.
Julukan legendaris `Zamrud Khatulistiwa` yang menggambarkan betapa hijau dan kayanya hutan hujan tropis kita seolah lenyap ditelan zaman. Kebanggaan sebagai negara pemilik hutan hujan tropis terbesar ketiga di dunia itu memudar.
Berangkat dari keresahan itulah, 14 orang pendiri dengan latar belakang yang sangat beragam, mulai dari Andre Christian, Gita Syahrani, Leony Aurora, hingga Vitri Sekar Sari, berkumpul.
Mereka bukan hanya aktivis lingkungan `garis keras`, tapi juga profesional dari berbagai bidang yang punya visi bahwa hutan harus kembali menjadi identitas utama bangsa Indonesia.
Mereka sadar, kalau mau mengajak anak muda untuk aware, bahasanya tidak boleh kaku. Pendekatannya harus relevan dengan keseharian anak kota, seperti musik, lari, jalan-jalan, sampai kuliner.
Salah satu hal paling menarik dari HII adalah cara mereka `mempromosikan` isu lingkungan. Mereka membungkus kampanye pelestarian alam lewat aksi-aksi yang sangat pop-culture.
Kamu hobi lari? HII punya program #KuLariKeHutan yang bukan sekadar ajang bakar kalori, tapi sebuah fundraising kreatif. Bayangkan, dengan berlari sejauh 5 kilometer, peserta secara otomatis sudah menyumbang untuk adopsi satu pohon di hutan.
HII bekerja sama dengan mitra lokal tepercaya seperti Forum Konservasi Leuser di Aceh atau KKI WARSI di Jambi untuk memastikan pohon-pohon adopsi itu benar-benar dijaga. Uniknya, kamu bisa memberi nama pohon asuhmu dengan nama sendiri, nama pacar, atau bahkan nama idola Korea kesayangan!
Bukan cuma olahraga, HII juga menyentuh hati lewat perut. Program #JamuanHutan dan kampanye Konsumsi Hasil Hutan mengajak kita menyadari bahwa hutan bukan cuma soal kayu.
Ada madu, kacang-kacangan, rempah, hingga rotan (Hasil Hutan Bukan Kayu/HHBK). Dengan membeli produk-produk ini, kita mendukung ekonomi masyarakat sekitar hutan agar mereka tetap bisa sejahtera tanpa perlu menebang pohon.
Karena anak muda kota seringkali terputus koneksinya dengan alam, HII memfasilitasi program Jalan-jalan ke Hutan.
Prinsipnya adalah bahwa ‘seeing is believing’. Lewat ekspedisi ini, peserta diajak masuk ke hutan, menghirup udara yang belum terpolusi, meminum air langsung dari mata air, dan berinteraksi dengan masyarakat penjaga hutan.
Tujuannya bukan sekadar wisata, tapi mencari konten dan cerita. Peserta yang pulang dari hutan diharapkan menjadi komunikator yang menceritakan pengalaman magis mereka ke media sosial bahwa hutan Indonesia itu keren, kaya, dan layak diperjuangkan.
Hutan Itu Indonesia menegaskan posisi mereka sebagai " gerakan terbuka" . Mereka tidak ingin berkompetisi dengan organisasi lingkungan yang sudah ada, melainkan menjadi wadah kolaborasi.
Semangat ini menular ke berbagai kota. Kini, ada simpul-simpul relawan seperti Youth4Youth di Ambon, Medan, Palangka Raya, hingga Surabaya. Siapa saja bisa bergabung, mulai dari mahasiswa, pekerja kantoran, sampai seniman. Bahkan, mereka punya kelas khusus #KelasSukaHutan untuk membekali relawan dengan pengetahuan lingkungan sebelum terjun berkampanye.
Di tengah hiruk-pikuk isu perubahan iklim yang seringkali membuat kita cemas, Hutan Itu Indonesia hadir menawarkan optimisme. Mereka mengingatkan kita bahwa menjaga hutan bisa dilakukan dengan cara yang asyik, seperti sambil lari pagi, sambil menikmati madu hutan, atau sambil memposting foto estetik hasil ekspedisi.
Advertisement
Kasus Ijazah Gibran, Sudah Selesai atau Belum?

Menilik 5 Green Movement Seru di Synchronize Festival

Deal Lepas 10,08 Miliar, Low Tuck Kwong Tambah Porsi Lego Saham Bayan Resources ke Jhonlin Baratama

IHSG Dibuka Menguat, Investor Pantau Laporan Cadev RI

MK Tak Temukan Bukti Gibran Punya Ijazah Setara SMA, Tapi Tak Bisa Batalkan Status Wapres


Kenapa Pekerjaan Baru di Usia 30-an Bisa Membuat Kita Merasa Bodoh Lagi?

Setir Mobil Tiba-Tiba Berat Diputar? Ini 4 Penyebab dan Cara Mengeceknya


Pepaya vs Mangga, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah dan Pencernaan?

Huawei Gandeng LinkAja, Pembayaran QRIS Bisa Lewat Smartwatch HUAWEI WATCH GT 7 Series

Gandeng Bilal Indrajaya, Lyodra Beri Pesan Tak Menyerah pada Album Terkunci Di Kamu

7 Jenis Tanaman yang Bisa Mengundang Ular ke Halaman Rumah, Bukan karena Baunya