Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Special Kids Expo (Spekix) 2019. (Foto: Keisha Ritzska Salsabila)
Dream - Special Kids Expo (Spekix) 2019, tunjukkan bakat anak berkebutuhan khusus pada sesi Chasing Your Dream by Various Successful SPekids Youngster di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Sabtu, 24 Agustus 2019.
Acara ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa anak muda dengan berkebutuhan khusus juga mampu berprestasi.
Bersama dengan Lula Kamal sebagai MC, salah satu anak berkebutuhan khusus Rafael Krisna Azzura, menjadi co-host untuk sesi kali ini.
" Saya bilang sayang amat kalau ada satu mc yang memang bagus banget bawainnya kenapa gak dia yang bawain, saya cuma nungguin," ujar Lula.
Rafael yang masih duduk di bangku SMP, seringkali dipanggil menjadi MC sebelumnya.
" Sebenernya mulai nge-MC itu dari SD," kata Rafael.
Selain itu, ada Aurelio Zacharias yang bekerja sebagai staff Purchasing dan Input Data di BLK PUPA sekaligus waitress di Unison Cafe.
" Kalau di PUPA Senin dan Jumat, kalau di kafe Unison Selasa hingga Kamis" ujar Aurelio.
Yang tak kalah keren, Fairuz Nurul Izzah, telah menciptakan tiga buku, yaitu Lesson of Friendship, My Life My Dream, dan Keluargaku Jiwaku.
Menurut Fairuz, ia membutuhkan waktu satu setengah hingga satu tahun untuk membuat satu buku.
" Menulis adalah hobi saya sejak SD dan saya ingin cerita saya dibaca oleh orang lain. Saya ingin mengasah kemampuan menulis saya," kata Fairuz.
Selanjutnya adalah Ardhana Hariwidagdo, seorang penyandang autisme yang telah lulus S2
" Saya ini sekarang baru lulus S2 dari Binus," ujar Ardhana.
Ardhana pun menambahkan, sekarang ia sedang membuat alat terapi bagi anak autis.
" Saat ini sekarang, lagi itu, bikin alat-alat terapi buat anak-anak autis," kata Ardhana.
Ardhana mengungkapkan, alat yang akan dibuat untuk menentukan proses pertumbuhan manusia. Alat ini juga berguna untuk membantu menentukan apa yang salah dan benar.
Di sesi ini, keempat anak berkebutuhan khusus juga diberikan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya.
Rafael salah satunya, memberikan nasihat untuk orang tua yang anaknya berkebutuhan khusus agar tidak panikan saat mengurus anaknya.
" Buat orang tua, jadilah orang tua yang jangan panikkan karena kalau orang tua panik itu akan buat anaknya tidak termotivasi," ungkap Rafael.
Rafael menambahkan, justru orang tua harus terus memotivasi anaknya.
Laporan: Keisha Ritzska Salsabila
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya