Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Facebook.
Dream – Tahun depan, Indonesia akan menggelar Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif bersamaa. Di tahun politik ini tak dipungkiri banyak berita palsu (hoax) berseliweran.
Salah satu platform media sosial, Facebook, turut berkomitmen untuk melindungi integritas pemilu di Indonesia.
Dilansir dari Liputan6.com, Rabu 10 Oktober 2018, raksasa teknologi memastikan para penggunanya hanya akan mengakses informasi yang terpercaya dan akurat di platform-nya. Facebook juga mengklaim serius dalam menangani penyebaran berita palsu.
Tak ingin masyarakat ikut tersulut informasi palsu, platform yang dirintis Mark Zuckerberg itu punya 10 tips untuk menangkal berita palsu.
Pertama, pengguna harus meragukan (skeptis) terhadap judul.
Hoax kerap menggunakan judul yang bombastis, huruf kapital, dan tanda seru. Jika judulnya “ wah” dan tak bisa dipercaya, kemungkinan besar isinya juga begitu.
Kedua, hati-hati URL palsu.
Tautan palsu dibuat semirip mungkin dan inilah menjadi peringatan terhadap berita palsu. Banyak situs berita hoax yang berpura-pura menjadi sumber berita otentik dengan mengubah alamat URL. Untuk mengecek, kamu bisa membuka situs tersebut dan membandingkannya dengan sumber yang terpercaya.
Ketiga, selidik sumber.
Sebelum membaca, pastikan dulu sumbernya bisa dipercaya dan punya reputasi yang akurat. Kalau berita berasal dari organisasi yang tak dikenal, cari tahu dulu informasi dari bagian “ tentang” di situs.
Keempat, cermati layout.
Banyak situs berita palsu yang salah eja atau layout yang canggung. Pastikan dulu untuk membaca secara seksama untuk melihat tanda-tanda ini.
Kelima, perhatikan fotonya.
Kabar palsu biasanya berisi gambar atau video yang dimanipulasi. Kadang, foto memang asli, tapi konteks berbeda. Pembaca bisa menelusuri foto atau gambar untuk mencari tahu sumber asli.
Keenam, jangan lupa mengecek tanggal.
Berita palsu mungkin saja memiliki lini masa yang tak masuk akal. Atau, tanggalnya sudah diubah.
Ketujuh, periksa sumber informasi penulis untuk menginformasikan keakuratannya.
Kurang bukti atau narasumber yang tak disebutkan namanya, bisa jadi menandakan berita itu berita palsu.
Kedelapan, cek dari sumber lain.
Kalau tak ada sumber lain yang melaporkan berita yang sama, bisa jadi berita itu adalah berita palsu. Tapi, kalau dilaporkan oleh media lain yang terpercaya, kemungkinan besar kabar itu benar.
Kesembilan, cek juga beritanya apakah itu lelucon.
Tak jarang berita palsu sulit dibedakan dengan humor atau sindiran. Kamu juga perlu mengecek apakah sumber berita itu memang menampilkan parodi atau tidak.
Kesepuluh, beritanya sengaja dipalsukan.
Kamu perlu berpikir kritis ketika membaca berita. Pastikan juga berita yang dibaca ini bisa dipercaya.
(Sumber: Liputan6.com/Agustin Setyo Wardani)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya