Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Kecenderungan anak-anak Indonesia pada `dunia layar` tak terelakkan. Setelah kegandrungan terhadap televisi di era 1990-an, belakangan anak-anak Indonesia menemukan dunia baru bernama ponsel pintar.
Studi tahunan perusahaan media digital anak, TotallyAwesome, menyebut, 80 persen anak di Indonesia lebih memilih akses internet ketimbang televisi.
Iterasi ke-empat dari “ Indonesia Kids’ Digital Insights” juga menganalisa perilaku digital anak-anak, penggunaan media online (daring), perangkat, konten, dan juga pilihan merek (brand preferences).
“ Kami melihat anak-anak di Indonesia sangat vokal dan fanatik dengan konten yang mereka lihat secara online. Dengan tingginya penetrasi ponsel pintar, masuk akal bahwa itu menjadikan mereka lebih mudah dipengaruhi oleh influencer anak online," kata TotallyAwesome Chief Executive Officer, Quan Nguyen, dalam keterangan resminya, Senin 25 Februari 2019.
Quan mengatakan, tren anak menggunakan gawai meningkat selama beberapa tahun terakhir. Anak-anak yang menggunakan ponsel pintar meningkat sebanyak 86 persen, televisi sebanyak 55 persen, dan tablet sebanyak 40 persen. TotallyAwesome menemukan salah satu bukti tren tersebut yaitu fakta bahwa lebih dari 70 persen anak memiliki ponsel pintar.
Lebih dari 90 persen anak yang disurvei mengatakan bahwa mereka mendapatkan informasi tentang peluncuran mainan terbaru melalui internet. Kegandrungan anak-anak pada dunia online juga berbanding lurus dengan peningkatan iklan media daring.
Sebanyak 9 dari 10 orang tua mengakui bahwa mereka membeli produk-produk untuk anak mereka setelah anak-anak melihat iklannya. Sisi lain dari meriahnya informasi di dunia internet juga membuat sebanyak 92 persen anak di Indonesia memiliki kemampuan belanja.
Menurut hasil survei, anak-anak turut menentukan apa yang ingin dia beli. Sebanyak 60 persen anak ingin makanan, minuman 54 persen, makan di luar 54 persen, mainan 31 persen, dan buku atau komik 24 persen.
“ Studi menunjukkan kekuasaan yang dimiliki anak-anak atas apa yang mereka mau. Mereka mendapatkan apa yang diinginkan dengan menggunakan uang saku mereka sendiri, atau melalui orang tua mereka dengan menggunakan pester power. Para pemasar harus mengenali dan mengakui influencer besar dari Generasi Alfa dan GenX,” kata Nguyen.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya