Aku Rela Jadi Kakimu, Nak!

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 12 Oktober 2016 20:40
Aku Rela Jadi Kakimu, Nak!
Mungkin Yu Xukang tak bia menggantikan posisi istrinya sebagai ibu.Tapi lihatlah perjuangannya membesarkan anak. Salut!

Dream - “ Aku tahu anakku cacat fisik, tapi tidak ada masalah dengan pikirannya.”

Yu Xukang memegang teguh keyakinan itu. Kelumpuhan boleh membelenggu kaki sang putra, Xiao Qiang. Tapi nasib jangan tertinggal roda hidup. Apalagi tergilas.

Dan lihatlah. Tekad Yu membaja. Saat hari masih terang-terang tanah, lelaki 40 tahun ini sudah memulai kehidupan. Di bawah keremangan Kota Yibin, Sichuan, dia perah seluruh tenaga.

Saban hari, Yu mengantar Xiao ke sekolah. Tidak dengan sepeda. Bukan pula mobil mewah. Melainkan hanya berjalan kaki. Harapan menguatkan raga Yu, termasuk kaki-kaki kekarnya.

Keranjang bambu tak pernah tertinggal. Selalu tersandang. Digendong di punggung. Itulah wadah ‘mengangkut’ Xiao. Bocah mungil berusia 12 tahun ini selalu dibawa Yu di dalam keranjang.

Dari gubuk mungil di bukit terpencil Tiongkok itu, Yu mulai melangkah. Menapaki jalan, mengejar kehidupan bocah lumpuh itu. “ Akulah kakimu, Nak.”

Bukan puluhan atau ratusan meter. Sehari, jarak yang ditempuh Yu 28 kilometer. Sudah begitu, dia harus lewat jalan terjal berbatu. Naik, turun. Tak jarang harus melintas di tubir jurang.

Tapi tak apa. Ayah sekaligus ibu bagi Xiao ini ikhlas. Dia yakin. Di depan ada cahaya. Ada harapan: kehidupan yang lebih baik untuk sang putra. Xiao harus tetap sekolah.

1 dari 2 halaman

Ditinggal Lari Istri

Xiao memang terlahir dengan kondisi cacat. Kaki tidak sempurna. Xiao tidak bisa berjalan. Untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, Xiao butuh bantuan Yu.

Kehidupan Yu dan Xiao semakin sulit setelah sang bunda memilih kabur. Yu harus membesarkan Xiao sendiri. Tapi dia bulatkan tekad untuk membesarkan Xiao.

Tiap hari, Yu bangun pukul lima pagi. Dia menyiapkan bekal makan siang untuk Xiao. Setelah semuanya beres, Yu menggendong Xiao dari rumah sampai ke sekolah.

Jarak antara rumah mereka ke sekolah tujuh kilometer. Dan Yu empat kali, bolak balik. Mengantar, pulang, jemput, dan balik. Total 28 kilometer.

Sampai di sekolah, Yu menempatkan Xiao di bangku. Sejenak kemudian, dia pamitan pulang. Dengan begitu, Yu tetap bisa bekerja. Bertani.

Pukul dua siang, saat kelar bekerja, Yu kembali ke sekolah. Menjemput Xiao. Mereka tiba di rumah pukul empat sore. Itulah rutinitas Yu, membesarkan buah hati.

Sebenarnya, banyak sekolah di sekitar rumah mereka. Tetapi, tidak ada satu pun yang mau menerima Xiao karena kondisi fisiknya.

“ Faktanya, saya hanya menemukan satu-satunya sekolah yang menerima Xiao, yaitu Sekolah Dasar Fengxi, jaraknya sekitar 7 kilometer,” kata Yu.

Jalan kaki adalah satu-satunya pilihan. Sejak pertama kali Xiao masuk sekolah, Yu memperkirakan sudah menempuh 25.600 kilometer.

 

2 dari 2 halaman

Secercah Harapan

Xiao paham betul pengorbanan sang ayah. Dia berusaha membayar dengan giat belajar. Sehingga perjuangan Yu tak sia-sia. Dia ingin sang ayah bangg.

Lihatlah hasilnya. Bocah difabel ini mampu memiliki prestasi mentereng di sekolah. Dan Yu benar-benar bangga.

“ Saya bangga pada fakta dia berada di ranking teratas di kelas dan saya yakin dia akan terus berprestasi,” kata Yu.

Setelah kisah Yu mendapat sorotan, pemerintah di wilayah Provinsi Sichuan itu memberikan tempat tinggal di dekat sekolah. Sehingga Xiao bisa sekolah dengan mudah.

“ Mimpi saya, dia terus bersekolah hingga perguruan tinggi,” harap Yu.

Yu mungkin tak bisa menggantikan posisi sang istri untuk menjadi ibu Xiao. Tapi, dia yakin perjuangan ini tidak sia-sia. Ayah yang hebat!

(Dari berbagai sumber)

Beri Komentar