Bisnis (3): Api Bisnis Fesyen Muslim Tak Pernah Padam

Reporter : Ahmad Baiquni
Rabu, 30 September 2015 19:16
Bisnis (3): Api Bisnis Fesyen Muslim Tak Pernah Padam
Ketika dolar naik tajam, bisnis ini nyaris tak terpengaruh. Tetap modis dan punya pangsa pasar besar. Tak kunjung mati.

Dream - Semilir sejuk pendingin udara di lantai 5 pusat perbelanjaan Thamrin City, mengusir cuaca panas di luar gedung yang kerontang pekan lalu. Di sebuah sudut lantai gedung di Jakarta Pusat itu, deretan hijab dengan berbagai motif terpajang rapi di sebuah kios.

Di kios berukuran 10 meter x 2 meter itu, sederet pakaian muslim wanita, mulai dari gamis, abaya, rok, dan blus longgar, seolah berlomba-lomba menarik mata pengunjung untuk mampir. Di bagian atas kios, tulisan ‘Yoya Hijab’ terpampang begitu jelas. Tercetak di atas papan dengan corak warna warni..

Masuk ke dalam kios, seorang pria tengah duduk dengan santai sembari menatap ke tiga orang wanita yang sibuk di dalam kiosnya. Saat disapa, pria itu lantas menoleh.

Dia kemudian memperkenalkan diri. Namanya Yoki Ferdian. Umurnya baru 31 tahun. Dia mengaku sebagai pemilik kios ‘Yoya Hijab’ itu.

Sesaat kemudian, Yoki mengajak pindah ke kios yang terletak hanya beberapa blok dari tempat duduknya semula. Di lokasi baru itu, dia mengatakan kios itu juga miliknya. Tampilannya tidak jauh berbeda dengan kios sebelumnya, penuh dengan pakaian muslim dengan pelbagai motif.

“ Di sini dijadikan pusatnya, istilahnya kantor kita, Yoya Hijab. Di sini, karyawan selain jualan, menjalankan promo di media sosial melalui internet dan website,” ujar Yoki saat berbincang dengan Dream.

Kepada Dream, Yoki mengisahkan bagaimana dia terjun dunia bisnis dengan berjualan hijab. Usaha itu dia mulai pada 2012. Sebelumnya dia hanyalah tenaga penjual kain lepas di sebuah toko kain terkemuka. Di situ dia kerap keluar masuk Pasar Grosir Tanah Abang dan Mal Thamrin City menawarkan kain-kain dagangannya. Aktivitas itu dia jalani selama sembilan tahun, terhitung sejak 2003.

Di tahun 2012, dia kemudian meminang wanita bernama Yani dan kemudian memutuskan untuk berhenti menjadi tenaga penjual kain dan beralih menjadi produsen pakaian muslim. Untuk memulai bisnisnya, Yoki butuh modal sekitar Rp30 juta yang dia dapat dari menggadaikan motor hasil jerih payahnya sebagai tenaga penjual kain lepas serta pinjaman bank.

“ Pertama butuh modal Rp 30 juta untuk kontrak toko satu tahun. Sempat gadaikan motor Rp20 juta untuk kontrak toko. Karena ngontrak satu tahun Rp 30 juta, kurang Rp 10 juta. Lalu pinjam ke bank selama 6 bulan. Modalnya nekad buat modal jualan,” kata Yoki.

Hingga kini, terhitung sudah tiga tahun Yoki menjalankan bisnisnya. Dia mengaku merasa tersulut untuk kreatif membuat strategi penjualan. Pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 April 1984 ini menyadari dunia maya memiliki peran besar terhadap kesuksesan sebuah usaha. Hal itu mendorong dia membuat strategi berjualan secara online.

Alhasil, barang dagangannya begitu diminati. Bahkan, peminat produk miliknya bukan hanya dari dalam negeri, melainkan hingga mancanegara.

“ Pemasaran, Alhamdulillah sudah ke Asia Tenggara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, hingga ke Australia,” ungkap dia.

Lezatnya bisnis fesyen muslim juga dirasakan oleh Firenzia Soetantio. Wanita berusia 28 tahun yang kerap disapa Zifa ini memutuskan berhenti dari pekerjaannya di sebuah perusahaan swasta terkemuka dan berjualan pakaian muslim. Keputusan itu dia ambil di tahun 2010 setelah menikah.

“ Tadinya kerja kantoran biasa. Kata suami buat usaha. Akhirnya cari kegiatan yang aku suka, fashion. Lalu bisnis hijab dan busana muslim ini,” tutur Zifa.

Beruntung, kala itu fesyen hijab tengah naik daun. Hal itu membawa dampak terhadap bisnis Zifa, yang telah memiliki gerai di lantai 1 Blok C pusat perbelanjaan Thamrin City ini. “ Coba buka di sini, Thamrin City pas lagi musim hijaber lagi naiknya. Alhamdulillah berjalan bagus,” terang Zifa.

Zifa mengaku pemasaran produknya memang tidak sampai merambah negeri seberang. Tetapi, lantaran menempatkan diri sebagai pedagang grosir, Zifa tetap bisa merasakan kenikmatan bisnis fashion hijab. Dagangannya banyak diserap di luar daerah, terutama Sumatera dan Kalimantan.

Meski demikian, Zifa mengaku pendapatan yang diperolehnya selalu fluktuatif seiring berjalannya waktu. Di tahun awal membuka usaha, ratusan juta rupiah mampu dia hasilkan. Tetapi, permintaan cenderung menurun dalam dua tahun terakhir.

“ Sekarang, jujur, pasarnya lagi sepi kira-kira dua tahun ini. Tapi cukup Alhamdulillah. Kurang lebih Rp50 juta keuntungan bisa didapat setiap bulan,” tutur Zifa.

***



1 dari 2 halaman

Pasar yang Kian Bertumbuh

Pasar yang Kian Bertumbuh

Industri fesyen muslim belakangan memang menjadi primadona. Tren menunjukkan jumlah permintaan komoditas pakaian muslim di dunia semakin meningkat. 

Lembaga konsultan ekonomi syariah Dinart Standart dalam laporan bertajuk ‘Digital Islamic Economy 2015’ mencatatkan nilai bisnis pakaian muslim dunia mencapai 266 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp3.914 triliun di tahun 2013. Nilai tersebut disokong oleh beberapa negara produsen fashion muslim seperti Turki, Uni Emirat Arab, Indonesia, dan Iran.

Turki mencatatkan nilai bisnis fashion muslim sebesar 39,3 miliar dolar AS, disusul UEA sebesar 22,5 miliar dolar AS. Posisi ketiga ditempati Indonesia dengan nilai bisnis fashion muslim mencapai 18,8 miliar dolar AS dan Iran sebesar 17,1 miliar dolar AS. 

Sementara di dalam negeri, sektor fashion menempati posisi primadona penyumbang pemasukan negara. Di antara 16 sektor, fashion menempati posisi ketiga penyumbang Produk Domestik Bruto terbesar, setelah kuliner dan kerajinan.

Hal itu dibenarkan oleh Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Ricky Pesik. Dia mengatakan, tren bisnis fashion muslim memiliki potensi cukup tinggi untuk berkembang, seiring perkembangan sektor fashion secara umum yang mencatatkan pertumbuhan di atas dua digit dalam kurun waktu tiga tahun terakhir.

“ Dalam hal ini fashion muslim berada di posisi yang potensial dan besar,” kata Ricky.

Ricky mendasarkan hal tersebut pada data yang dimiliki Asosiasi Perancang Pakaian Muslim Indonesia (APPMI), mengutip data Organisation of Islamic Cooperation (OIC). Data tersebut menunjukkan Indonesia menempati posisi ketiga pengekspor fashion muslim terbesar dunia tahun 2014, dengan nilai mencapai 7,2 miliar dolar AS. Sementara posisi pertama dan kedua ditempati Bangladesh dengan nilai ekspor 22 miliar dolar AS dan Turki sebesar 14 miliar dolar AS.

Berangkat dari data tersebut, Indonesia kemudian ditargetkan akan menjadi kiblat fashion muslim dunia pada 2020. Menyadari potensi ini, Ricky mengatakan pihaknya akan mendorong pertumbuhan industri fashion muslim Tanah Air.

“ Sekarang sedang sedang berkoordinasi sama pelaku industri fashion. Bekerjasama dengan penyelenggaraan gelaran fashion seperti Indonesia seperti Indonesia Fashion Week, Jakarta Fashion Week dan Indonesia Fashion Award dan para asosiasi besar seperti APPMI,” kata Ricky.

***


2 dari 2 halaman

Tak Goyah Diterjang Pelambatan Ekonomi

Tak Goyah Diterjang Pelambatan Ekonomi

Sementara, kondisi perekonomian global sesungguhnya tengah berada pada posisi kurang stabil. Hal ini memicu perlambatan pada pertumbuhan ekonomi sejumlah negara. Indonesia merupakan salah satu negara yang merasakan dampak pelambatan ekonomi tersebut.

Meski demikian, kondisi ini tidak membuat para pelaku industri fesyen hijab terpengaruh. Mereka tetap optimis pasar fesyen muslim dapat terus berkembang, bahkan tidak akan menunjukkan indikasi penurunan dalam kurun waktu beberapa tahun ke depan.

Desainer fesyen muslim Ria Miranda membenarkan hal  tersebut. Dia mengaku tidak merasakan dampak langsung dari pelambatan ekonomi ini.

“ Dampaknya tidak signifikan. Alhamdulillah, permintaan masih banyak, namun dari segi pembelian bahan baku sedikit mengalami perubahan, disebabkan para pemasok menaikkan harga beberapa bahan bakunya,” ungkap Ria.

Terkait pasar fashion hijab, Ria masih yakin akan terus bertumbuh. Salah satu faktor penyebabnya, kata Ria, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim yang besar. Hal itu menjadi potensi selalu terbukanya pasar.

“ Peluang bisnis fashion muslim semakin besar dan pesat dari tahun ke tahun. Saya lihat, masyarakat Indonesia sebagai produsen juga sudah sangat kreatif menciptakan baju muslim dan menawarkannya melalui berbagai cara. Dengan beragamnya fashion muslim yang ada di Indonesia, mengisyaratkan bahwa untuk menutup aurat bukanlah suatu hal yang sulit lagi, ketika kita sudah memantapkan hati untuk berhijab,” ungkap dia.

Hal senada juga diungkapkan oleh desainer hijab Windri Widiesta Dhari. Pemilik merek fashion hijab Nur Zahra mengakui ada dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap proses produksi. Tetapi, dampak yang ditimbulkan tidak terlalu signifikan.

“ Karena kainnya naik dan benangnya impor, paling harga kainnya sedikit naik. Tapi harga jual kita tetap sama tidak naiknya tapi mungkin pembelinya lebih sedikit,” ungkap ibu tiga anak ini.

Meski begitu, Windri tidak terlalu khawatir pelemahan rupiah mengancam usahanya. Ini lantaran dia tidak melulu mengejar keuntungan dalam berbisnis, tetapi lebih menekankan pada ajakan untuk berkreasi pada anak muda.

“ Tujuan utama Nur Zahra ingn mengajak bangsa kita terutama anak muda untuk berkarya. Jadi kita bisa fokus mmbangun bangsa tidak hanya mencari uang tapi juga ke sosial. Syiar juga bahwa produk lokal bisa go international tanpa biaya besar. Selama kita punya konsep yang kuat, berkarater dan unik pasti bisa go internasional,” kata dia.

Maka, ketika banyak bisnis di Indonesia terjerembab di tengah pelambatan ekonomi dunia, bisnis fesyen muslim Indonesia tetap tumbuh dan berkibar. Tak terhadang krisis dan kenaikan nilai tukar dolar AS. Sebagai penduduk muslim terbesar dunia, terbukti Indonesia adalah pasar yang begitu gigantik. Tak heran api bisnis fesyen muslim tak pernah padam… (eh)

Beri Komentar