Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol
Megalodon Pernah Jadi Raja Lautan, Mengapa Predator Raksasa Ini Akhirnya Punah?
Orang Tua Baru Rentan Burnout, Riset Menunjukkan Kerja Sama Pasangan Bisa Jadi Penangkalnya
Kuku Tiba-Tiba Memerah? Perubahan Kecil Ini Bisa Jadi Tanda Penyakit Tersembunyi
Diagnosis ADHD dan Autisme Meningkat Tajam, Studi Besar Ungkap Perubahan Siapa yang Terdiagnosis
Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah
Ilustrasi (Foto: Shutterstock)
Dream - Banyak orangtua anak-anak usia balita sibuk mengajarkan hal-hal yang berkaitan dengan akademik. Seperti mengenal huruf, membaca, berhitung dan sebagainya. Tapi lupa mengajarkan anak untuk mengembangkan kecerdasan emosi.
Justru anak usia balita atau yang duduk di Kelompok Bermain dan Taman Kanak-kanak, harus lebih dilatih kecerdasan emosi. Seperti belajar mengucap salam, berempati, berbagi dan menghormati orang lain.
" Perkembangan anak usia dini begitu luar biasa, terjadi sangat cepat. Di usia 4 atau 5 penting bagi orangtua untuk mengajarkan bagaimana mengenali emosi, bersikap dan berempati," ujar Robert Zetlin, seorang psikolog yang juga penulis buku 'Laugh More, Yell Less'.
Mengembangkan kecerdasan emosi pada anak tentunya dibutuhkan peran serta orangtua. Perlu adanya keseimbangan antara meningkatkan kemampuan akademik dan kecerdasan emosi. Lalu bagaimana caranya?
- Selalu beritahu sikap yang baik dan buruk
Mengucap salam saat masuk rumah, begitu pun saat keluar rumah. Menghormati orang yang lebih tua, tak memotong pembicaraan orangtua. Berbagi mainan dan mengantri. Hal-hal tersebut hanya bisa diajarkan oleh orangtua.
Selalu beri peringatan jika anak melakukan hal buruk dan beri pujian ketika ia berlaku baik. Hal ini akan sangat menempel pada ingatannya. Jika pun ia melakukan kesalahan, maka anak tak segan untuk mengakui dan minta maaf. Hal itu sebagai pertanda kecerdasan emosinya sudah semakin baik.
- Main bersama
Ajaklah anak untuk bermain bersama-sama dalam kelompok yang lebih besar. Terutama jika buah hati selalu diistimewakan di rumah, karena yang paling kecil. Saat bermain bersama meski sibuk sendiri-sendiri, anak akan belajar berinteraksi, bermain bergantian dan berkomunikasi satu sama lain.
- Sekolah bermain
Cari sekolah untuk anak usia dini yang penuh dengan aktivitas bermain. Usia balita merupakan momen di mana anak harus diberikan stimulasi maksimal dengan bermain. Bicarakan pada gurunya jika memang ada keluhan atau kebiasaan buruk si kecil di rumah. Misalnya belum bisa berbagi, masih suka mengamuk atau hal lain.
Sumber: Fatherly
Advertisement

Jalan Kaki Bisa Bantu Turunkan Berat Badan, Ini 5 Cara Membuatnya Lebih Efektif

8 Tanda Tubuh Kebanyakan Kafein, dari Jantung Berdebar hingga Sulit Tidur

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor

Kebiasaan Sederhana Ini Disebut Bisa Bikin Pernikahan Lebih Kuat, Tak Perlu ke Gym



5 Makanan Olahan yang Bisa Dikonsumsi Setiap Minggu untuk Membantu Menjaga Kolesterol