Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi Buaya (Foto: Shutterstock)
Dream - Label fesyen asal Prancis, Hermes, berencana membangun pertenakan buaya terbesar di Australia. Rencananya, Hermes akan bekerjasama dengan Mick Burns dan telah membeli bekas lahan pertaian hortikultura dekat wilayah Darwin, Australia.
Dikutip dari ABC Australia, buaya-buaya hasil ternak itu nantinya akan diambil kulitnya sebagai bahan baku utama pembuatan tas serta aksesoris lainnya.
PRI Farming, perusahaan di bawah naungan Hermes pun telah membeli lahan pertenakan itu seharga Rp74,9 miliar.
Lebih lanjut, menurut informasi lahan tersebut dapat menampung sekitar 50 ribu buaya. Selain dikuliti dan dijadikan produk fashion, daging buaya juga dijual sebagai bahan pangan.

Rencana Hermes membangun peternakan buaya terbesar di Australia mendapat protes keras dari para pencinta dan aktivis hewan.
Banyak pihak menyebut, Hermes dan IPR Farming melakukan tindaakan yang menjijikan dan tidak penting.
Tak sampai situ, banyak kritikus fesyen yang menilai langkah yang diambil Hermes dianggap sebagai keunduran dalam industri fashion.
Mengingat banyak brand fashion ternama, justru berlomba-lomba meminimalisi atau bahkan menghentikan pemakaian kulit dan bulu hewan sebagai bahan asli dalam produk fashion mereka.

Pembuatan pertenakan buaya ini kemungkinan didukung atas dasar larisnya produk tas andalan Hermes, seri Birkin, yang berbahan dasar kulit buaya.
Seperti yang diketahui, sebagain besar brand fesyen ternama seperti Hermes dan Louis Vuitton memilih kulit buaya air asin di Australia sebagai bahan baku produk mereka karena karakteristik kulitnya.
Menurut pakar peternak buaya Geoff McClure, ternak buaya air asin memiliki kepadatan sisik lebih banyak per unit di bagian perutnya. Seperti diketahui, kulit di perut buaya lah yang banyak diambil untuk diolah sebagai produk fashion.
Hingga tulisan ini dibuat, pihak Hermes atau IPR Farming belum mengeluarkan pernyataan terkait protes yang dilayangkan netizen dan aktivis.
Sumber: ABC Australia
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya