Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Juicygeniuses.com
Dream - Efek yang kuat dan kadang-kadang luar biasa ketika makan makanan pedas ternyata disebabkan oleh salah satu bahan kimia kecil yang ditemukan dalam cabai: capsaicin.
Selain sebagai 'penggugah selera', capsaicin dalam cabe ternyata memiliki manfaat kesehatan.
Menurut studi pada 1998, sebuah tim peneliti menemukan bahwa capsaicin bisa menghambat pertumbuhan bakteri dan jamur yang tumbuh dalam makanan. Capsaicin bisa membunuh atau menghilangkan hingga 75 persen semua jenis bakteri dalam makanan.
Kendati demikian mengkonsumsi capsaicin dalam jumlah besar juga mengundang risiko bagi kesehatan.
Meskipun cabai ditemukan di banyak hidangan di seluruh dunia, capsaicin yang dikandungnya bersifat neurotoxin dan dalam konsentrasi yang cukup tinggi dapat menyebabkan kejang, serangan jantung, dan bahkan kematian.
Cabai paling pedas di dunia adalah cabai Bhut Jolokia atau lebih dikenal sebagai cabai 'iblis'. Menurut Paul Bosland, orang yang menemukannya, cabai ini bisa membunuh dalam waktu yang singkat.
" Sebuah penelitian pada tahun 1980 membuat hitungan bahwa 3 pounds cabai Bhut Jolokia dalam bentuk bubuk yang dimakan sekaligus bisa membunuh orang dengan berat 150 pounds," kata Bosland, kepada Live Science.
Namun orang tak perlu makan cabai 'Iblis' untuk merasakan murka capsaicin ini. Ruari Barratt, jurnalis lepas di Inggris, merasakan langsung efek dari makan terlalu banyak capsaicin.
Barratt harus dilarikan ke rumah sakit setelah makan burger yang dicampur dengan saus cabai piri piri dari India.
Menurut Barratt, ia langsung merasa sangat panas di mulutnya setelah gigitan pertama. Dan semakin lama, rasa panas itu memburuk dan berubah menjadi sakit.
" Setelah menelan dan mencapai perut, kaki saya mulai kejang-kejang dan tangan saya tidak bisa digerakkan," tulis Barratt di email ke Medical Daily. " Mata saya juga berputar, saya sangat pucat dan sulit untuk berbicara."
Penderitaan Barratt baru benar-benar berakhir setelah tiga jam. Meski akhirnya selamat, kebanggaan Barratt kuat makan makanan pedas sedikit ternoda. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya