Vaksin Sinovac
Dream - Pemberian vaksin Covid-19 saat ini dilakukan dua kali. Melalui suntikan pertama dan kedua yang berjarak 14 hari. Bila sudah mendapatkan dua kali suntikan (dosis penuh/ full dose), baru vaksin bekerja efektif.
Rupanya Sinovac, produsen vaksin Covid-19 asal China melakukan penelitian lanjutan. Studi tersebut mengungkap, bila suntikan ketiga diberikan akan meningkatkan respons antibodi sepuluh kali lipat dalam seminggu. Hal tersebut menurut uji klinis fase kedua, tetapi adopsi dosis ketiga dalam skala besar masih membutuhkan lebih banyak penelitian.
Yin Weidong, kepala produsen vaksin China Sinovac, mengatakan kepada China Central Television pada Sabtu 5 Juni 2021 lalu, bahwa perusahaan baru-baru ini menyelesaikan uji klinis fase kedua.
" Menunjukkan bahwa ketika sukarelawan yang telah menerima dua dosis vaksin COVID-19 Sinovac dan menerima suntikan ketiga setelah tiga dan enam bulan, respons antibodi di dalam tubuhnya melonjak sepuluh kali lipat dalam seminggu dan dua puluh kali lipat dalam 15 hari," kata Weidong, dikutip dari Globaltimes.cn
Sinovac akan melakukan penelitian yang lebih menyeluruh dan lebih lama untuk menentukan waktu terbaik untuk memberikan dosis vaksin ketiga. Setelah menyelesaikan dua suntikan, tubuh sudah menghasilkan memori kekebalan.
" Adapun kapan suntikan ketiga akan dibutuhkan, tolong beri peneliti lebih banyak waktu untuk mempelajarinya," kata Weidong.
Saat dikonfirmasi apakah Sinovac memiliki vaksin baru untuk melindungi dari varian Covid-19 yang bermutasi, juru bicara Sinovac Liu Peicheng dikutip oleh Chinanews.com pada mengatakan bahwa studi tentang imunogenisitas dari varian strain sedang dilakukan.
Liu mengatakan vaksin yang tidak aktif memiliki rute proses yang matang. Secara teori, mengubah regangan tidak mengharuskan rute tersebut diubah. Sinovac akan melakukan uji coba skala kecil untuk memastikan apakah rute proses yang ada dapat mencapai produksi vaksin yang efektif terhadap varian baru yang bermutasi.
Rencana booster di masa depan juga jadi bahan diskusi. Otoritas kesehatan China mengatakan mereka akan menentukan kapan harus memberikan suntikan booster untuk COVID-19 berdasarkan analisis kelompok yang divaksinasi awal untuk memerangi ancaman strain mutan.
Data dari orang yang divaksinasi enam bulan lalu saat ini sedang dianalisis. Hasil awal menunjukkan bahwa tingkat antibodi untuk sekitar setengah dari orang yang telah divaksinasi masih baik.
" Dengan dukungan data ilmiah, kami akan menentukan kapan orang yang sudah lama divaksinasi harus diberikan suntikan booster," kata Shao Yiming, ahli imunologi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China.
Dream - Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Sonny Harmadi, menyatakan Bali kini sedang bersiap mencapai status herd immunity atau kekebalan komunal. Status itu dilihat dari tingkat partisipasi masyarakat yang sangat tinggi dalam mengikuti vaksinasi Covid-19.
" Kita punya target minial 3 juta orang Bali divaksin untuk mencapai target kekebalan kelompok 70 persen dari populasi," ujar Sonny Sosialisasi Bali Bangkit, disiarkan kanal YouTube Direktorat Promkes dan PM Kemenkes RI.
Sonny menyatakan Bali termasuk provinsi dengan tingkat partisipasi masyarakat yang tinggi dalam vaksinasi. Bahkan yang tertinggi di antara daerah lain di Indonesia.
Hingga saat ini, sebanyak 1,5 juta orang di Bali telah menerima dosis vaksin pertama. Sedangkan jumlah penerima dosis vaksin kedua sebanyak 676 ribu orang.
Jika digabungkan, maka sudah ada 2,2 juta warga Bali yang menerima vaksinasi. Untuk mencapai herd immunity, Bali masih membutuhkan 800 ribu orang lagi yang mengikuti vaksinasi.
" Sebentar lagi bisa mencapai kekebalan kelompok mendukung Bali untuk bangkit," kata dia.
Ditambah, tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan di Bali juga cukup tinggi. Sonny mengatakan seluruh kabupaten di Bali memiliki tingkat kepatuhan memakai masker mencapai 93 persen.
Hanya ada dua kabupaten yang memiliki tingkat kepatuhan memakai masker dan menjaga jarak di bawah rata-rata. Dua kabupaten tersebut yaitu Klungkung dan Gianyar.
" Namun, kami sangat mengapresiasi kepatuhan terhadap protokol kesehatan yang kami amati setiap hari di dashboard monitoring perubahan perilaku untuk Bali sangat baik," kata dia.
Dream - Perwakilan WHO menyatakan Indonesia merupakan negara tercepat se-Asia Tenggara dalam melakukan vaksinasi Covid-19. Pasokan vaksin dalam negeri juga dinilai cukup aman.
Immunization Officer WHO Indonesia, Olivi Silalahi, mengatakan, Indonesia cukup beruntung karena pemerintah berhasil mengamankan pasokan vaksin lebih dini. Ditambah lagi, vaksinasi dilakukan dengan gebyar cukup besar.
" Didukung oleh Presiden kita yang terus monitoring pelaksanaan vaksinasi dan juga Bapak Menteri Kesehatan," ujar Olivi dalam dialog virtual disiarkan kanal FMB9ID_IKP.
Dibandingkan negara-negara lain yang masuk cakupan WHO South-East Asia Regional Office (SEARO), kata Olivi, Indonesia di urutan kedua negara dengan penduduk terbanyak sudah menerima vaksinasi. Urutan pertama ditempati India.
Olivi menerangkan untuk ukuran negara yang belum memproduksi sendiri vaksin Covid-19, Indonesia sudah cukup maju dalam melaksanakan vaksinasi. Meski begitu, masih ada tangangan yang dihadapi Indonesia.
" Tantangan dalam menjangkau kelompok-kelompok yang memang rentang apabila terkena Covid-19, akan menjadi kasus yang berat dan bahkan kematian," kata dia.
Olivi mengatakan Indonesia punya banyak pengalaman vaksinasi rutin. Secara umum, sistem kesehatan di Indonesia sudah siap melaksanakan vaksinasi dalam skala besar.
" Namun, seperti yang sudah kita bahas, keterbatasan vaksin menjadi tantangan di seluruh negara termasuk Indonesia," kata dia.
Lebih lanjut, Olivi mengingatkan vaksinasi hanya salah satu cara mencegah pandemi Covid-19. Dia kembali mengingatkan masyarakat untuk tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan.
" 3M, 3T tetap harus dikuatkan karena ini saling melengkapo, tidak bisa ada satu dan dua, tetapi harus bisa dilakukan bersama-sama," ucap Olivi.