Elanto Saat Menghadang Pengendara Harley Davidson (sumber: YouTube)
Dream - Suara ribut layaknya rombongan tanjidor memenuhi udara jalan lingkar luar Yogyakarta. Sumber suara itu samar-samar terlihat di ujung jalan. Tak lama kemudian tampaklah motor-motor seukuran kerbau bergerombol berarak-arak.
Kota yang dikenal dengan gudeg dan keraton jawanya itu mendadak gaduh. Para penunggang motor itu bergaya sangar, agar serasi dengan tunggangannya.
Namun cara megendarainya layaknya bocah yang baru dapat hadiah sepeda baru. Meliuk-liuk memenuhi tiga jalur yang ada serta menggeber tuas gas di genggaman.
Diantara mereka memacu kerbau besinya saling susul menuju arah Candi Prambanan. Jalan itu seolah menjadi milik mereka. Polisi pengawal yang juga mengendarai motor besar, membersihkan jalur di depan. Steril !
Pas menjelang lampu lalu lintas, mendadak mereka menarik rem. Lampu merah ? Lampu memang menunjukkan warna merah. Namun bukan karena lampu itu mereka berhenti.
Di tengah jalan, seorang pria ceking, berkacamata minus dengan sepeda anginnya menutup jalan itu. Berdiri tepat di jalur penyeberangan, zebra cross, di kawasan Condongcatur, Sleman, Sabtu 15 Agustus lalu.
Pria ceking berbaju serba hitam itu Elanto Wijoyono. Tangannya bersedekap. Ketika polisi pengawal yang ternyata seorang polisi wanita itu sudah dekat, Elanto mengingatkan.
Dia minta sirine yang bersuara ribut dimatikan, arak-arakan harus tetap tertib, tidak serampangan, ikuti rambu lalu lintas termasuk saat lampu merah harus berhenti.
Ibu polwan itu hanya diam dan tetap berdiri diatas motornya. Respon berlebihan justru datang dari salah satu pengendara. Dia turun dari motornya mendekati Elanto dan berkacak pinggang menantang.
Mereka saling berhadapan. Bersitegang. Meski kalah dari segi postur tubuh, nyali Elanto tak ciut. Ia justru bertanya dengan nada tegas " Apakah Anda tahu fungsi patwal?"
" Untuk mengawal rombongan," jawab si pengendara lantang.
Elanto lalu menjelaskan, rombongan yang punya hak dikawal patwal itu harus sesuai aturan, tidak menerobos lampu merah.
" Lho ini juga rombongan kenegaraan," kata pengendara moge memotong pembicaraan.
" Kenegaraan apa?" tanya balik Elanto.
" Tujuhbelasan!" bentak si pengendara sambil bergegas kembali ke motornya.
Elanto tetap mematung. Para pemoge lainnya akhirnya mundur teratur menunggu lampu hijau menyala.
Aksi Elanto bak superhero sontak mendapat dukungan warga sekitar. Masyarakat juga terganggu dengan gaya pawai pecinta Moge namun seolah tak cinta suasana nyaman Yogyakarta.
Menyebut kegiatannya sebagai peringatan Hari Ulang Tahun ke-70 Republik Indonesia, mereka menggelar Jogja Bike Rendezvous (JBR) ke-10, dari 14-17 Agustus 2015.
Ternyata keberanian Elanto sempat diabadikan melalui video oleh salah satu rekannya. Peristiwa itu lalu disebar ke media sosial. Dalam hitungan menit efeknya sungguh luar biasa.
Bak wabah. Video serta foto penghadangan rombongan kerbau besi itu menyebar ke setiap celah media sosial. Videonya ramai ditonton di YouTube. Netizen riuh mengomentari dan mendukung pria 32 tahun itu. Media ramai memberitakannya.
Kepongahan para pemilik motor besar itu langsung menciut. Jika biasanya mereka merasa 'kebal' aturan lalu lintas, tapi kini tidak dimata Elanto.
Dan pria ceking itu mendadak tenar. Masyarakat yang selama ini agak putus asa mengharapkan peran polisi, tiba-tiba mendapat pahlawan baru.
Siapa sebenarnya Elanto? Apa yang membuat dia begitu berani. Apakah dia tak takut menghadapi rombongan berkantong tebal itu?......
© Dream
Bernyali Besar
Pencegatan itu bukan aksi spontan. Elanto sudah merencanakan. Membuat woro-woro di akun twitternya. Ia mengajak warga Yogyakarta menghadang konvoi moge yang akan melintas.
" Ayo hadang laju moge ber #voorijder patwal & moge arogan. Siang: kota, 3pm per4an ringroad concat cc @Korlantas @RTMC_Jogja #Jogja #JBR2015," begitu bunyi seruan Elanto lewat akun twitter @joeyakarta.
Sejak tahun lalu, Elanto mengaku sudah bicara dengan Direktur Lalu Lintas Polda DIY untuk mengatur konvoi kendaraan bermotor. Secara normatif dia menyatakan siap mengatur, tapi secara konkret tidak ada solusi di lapangan.
" Hari itu saat melakukan pengadangan, saya juga sudah melaporkan keluhan sesuai prosedur, mulai dari melapor ke pos polisi hingga ke Polda Yogyakarta," kata Elanto saat berbincangan dengan Dream melalui sambungan telepon.
Dimulai dengan mendatangi pos polisi di Jombor untuk meminta mereka mengatur konvoi, tapi petugas lapangan memintanya ke Dirlantas. Sabtu siang, ia ke kantor Dirlantas Polda DIY, menunggu satu jam tapi tak ditemui, hanya bertemu asistennya.
" Saya sebagai warga melaporkan keluhan, berharap ada solusi dari polisi. Saya katakan jika di lapangan petugas tidak menindak pelanggaran, saya akan menegur langsung," tuturnya.
Nah, begitu tiba perempatan Condongcatur, Elanto sempat mencoba menepi ke arah kiri dan berbicara dengan seorang polisi. " Enggak bisa ini pak. Ini menganggu pak," kata Elanto protes ke seorang polantas di sana.
Sayangnya polisi itu hanya diam dan terus bekerja memberi jalan kepada rombongan pertama pengendara moge.
" Saya akhirnya berdiri ke tengah menghadang para moge. Saya bilang ke mereka itu lampu merah. Berhenti!" ujar Elanto mengisahkan awal penghadangan.
Ia merasa tidak takut ada hal buruk terjadi, karena semua tindakan sudah diperhitungkan. Misalnya, ia menghadang di zebra cross.
" Jika ada sesuatu terjadi, maka sudah pasti yang menabraklah yang salah. Saya juga hanya menghadang saat lampu merah, dan sudah berkoordinasi ke polisi dari Polda sampai pos polisi di lokasi," kata warga Condongcatur itu.
Elanto percaya, jika protes dilakukan di ruang publik, banyak yang mengawasi dan banyak pula yang mengingatkan. Tak hanya pada kasus ini, tapi juga kasus lainnya.
© Dream
Sudah Sohor
Bagi pengendara Harley, sosok Elanto mungkin asing bahkan tak tahu latar belakangnya. Tapi di kalangan pejabat Pemerintahan Yogyakarta namanya sudah akrab di telinga.
Elanto dikenal peduli terhadap lingkungan dan kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada masyarakat. Ia banyak bergerak dalam proyek 'Jogja Ora Didol, Warga Berdaya'.
Proyek ini merupakan sebuah gerakan sosial jalanan yang melibatkan banyak komunitas. Dari kalangan seniman di Yogya, kelompok seniman jalanan, pesepeda, hingga aktivis lingkungan.
Gerakan komunitas ini beragam. Menyoroti pelbagai hal. Mulai dari maraknya pembangunan hotel, sistem pemerintahan yang bobrok, kekeringan akibat bangunan komersil, sampai fungsi-fungsi ruang publik yang lenyap di Yogya. Gerakan Elanto dan kawan-kawannya bergulir sejak 2011 silam.
Usai menghadang konvoi moge, Elanto mendatangi Direktorat Lalu Lintas Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta pada Selasa, 18 Agustus 2015. Dari pertemuan tersebut menghasilkan empat poin kesepakatan.
Pertama, harus ada langkah evaluasi yang melibatkan publik. Poin kedua, ia mendesak kepolisian mensosialisasikan informasi perundangan, terutama UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan secara utuh.
Kemudian ketiga, kepolisian tidak lagi sembarangan memberikan izin pengawalan suatu kegiatan dengan voojrider. Dan yang terakhir, ia meminta polisi berani bersikap tegas pada pelaku pelanggaran lalu lintas, tidak saja oleh kelompok moge tapi juga konvoi-konvoi lain.
" Kalau masih terulang lagi, saya turun kembali melakukan penghadangan. Masa belum sadar dan malu juga," kata Elanto.
Kepolisian DIY sudah meminta kelompok pemilik motor gede tidak berlaku arogan di jalan. Penghadangan yang dilakukan Elanto merupakan bentuk pembelajaran.
Ketua Harley-Davidson Club Indonesia (HDCI) Yogyakarta Gatot Kurniawan juga ikut apresiasi aksi Elanto. Ia meminta maaf terkait oknum bikers yang melakukan aksi ugal ugalan yang membuat warga Yogyakarta tidak nyaman.
Menurutnya, Ketua HDCI Pusat, Nanan Sukarna dan panitia sudah berpesan agar bikers selalu menaati peraturan lalu lintas.