Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Pemeriksaan Tekanan Darah/ Foto: Shutterstock
Dream - Tekanan darah tinggi atau yang dikenal dengan istilah hipertensi termasuk kondisi yang seringkali tak disadari pengidapnya. Hal ini lantaran hipertensi tak menunjukkan gejala hingga baru diketahui setelah serangan stroke.
Kondisi tersebut membuat hipertensi termasuk penyakit silent killer atau bisa membunuh secara perlahan. Menurut World Health Organization (WHO) pada 2021 terdapat 1,4 miliar penduduk dunia hidup dengan hipertensi. Salah satu dampak fatal dari hipertensi yang tak terkontrol adalah stroke dan kematian mendadak.
Dalam acara webinar yang diadakan Bayer Indonesia pada 31 Agustus 2022, dr. Eka Harmeiwaty, spesialis saraf dari RS Pusat Jantung Nasional Harapan Kita mengungkap kalau hipertensi merupakan pemicu utama stroke.
“ Hipertensi merupakan faktor risiko utama kejadian stroke. Setiap kenaikan tekanan darah sistolik 2 mmHg akan meningkatkan risiko stroke 10% pada orang dewasa. Hipertensi sendiri ditemukan pada 64-70% kasus stroke," ujar dr. Eka.
Hipertensi sendiri merupakan penyakit kronik yang tidak bisa disembuhkan. Bila seseorang sudah pernah mengalami hipertensi dan tekanan darahnya dalam level normal, mencapai target bukan berarti dia sembuh, tapi terkontrol.
Tekanan darah tinggi dapat menyebabkan gumpalan darah otak mengeras dan aliran darah menuju otak terhambat sehingga memicu terjadinya stroke, mulai dari skala ringan (Transient Ischaemic Attack / TIA) sampai stroke berat yang bisa menyebabkan kecacatan menetap / mengancam jiwa, terutama jika Hipertensi tidak ditangani.
Banyak faktor yang bisa memicu hipertensi. Menurut dokter Eka, ada faktor risiko yang dapat diubah dan yang tidak dapat diubah. Untuk yang tidak dapat diubah yaitu faktor generik.
Genetik atau keturunan seperti usia, gender, dan ras merupakan faktor risiko yang tidak dapat diubah. Semakin tambah usia maka risiko hipertensi semakin tinggi.
" Perempuan umumnya lebih rawan mengidap hipertensi dibanding laki-laki, kemudian ras kulit hitam cenderung lebih rawan mengidap hipertensi dibanding ras kulit putih," ujarnya.
Begitu juga riwayat keluarga. Mereka yang memiliki orangtua pengidap hipertensi, memiliki risiko juga mengalaminya. Lalu anak yang prematur, perokok pasif, juga berat badan lahir rendah.
Dokter Eka menjelaskan, seseorang dikatakan menderita hipertensi apabila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg. Untuk itu penting melakukan pemeriksaan tekanan darah secara rutin, terutama mereka yang memiliki faktor risiko tinggi.
Mengingat hipertensi tak bisa disembuh dan hanya bisa dikontrol, salah satu caranya adalah dengan melakukan konsultasi rutin dengan dokter. Bila memang memiliki riwayat hipertensi dokter akan memberikan terapi obat untuk mengontrolnya agar tak menjadi serangan stroke.
Laporan: Meisya Harsa Dwipuspita
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya