Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Penikmat I-Dosing (youtube)
Dream - Teknologi digital yang semakin maju kini mulai membawa ancaman. Sebuah aplikasi musik digital disebut-sebut memiliki efek hampir sama seperti orang-orang yang melayang karena obat-obatan terlarang.
Meski banyak yang meragukan, sejumlah pihak mengklaim efek kecanduan obat terlarang ini bisa hadir lewat musik digital.
Terkenal dengan sebuat i-Dosing, tujuan dari obat digital ini memang ingin membuat pendengarnya seolah-olah tengah melayang, usai mendengarkan alunan suara yang sudah diolah sebelumnya.
i-Doser, perusahaan pembuatnya mengatakan, jenis suara seperti ini membantu pendengarnya mendapatkan pengalaman stimulasi melalui audio yang diperdengarkan lewat dua telinga anda.
Suara-suara digital ini diklaim mampu mengsinkronisasi gelombang otak pendengarnya.
Psikologi asal Dubai, Dr Valeria Risoli mengaku saat ini dirinya memang belum menerima pasien yang mengeluhkan kecanduan obat digital ini.
Namun Risoli menganggap orang yang mulai beralih mencoba obat digital memang ingin mencari rangsangan yang baru dan kuat, sehingga bisa membuat mereka merasakan sensasi lain.
" Setiap tindakan yang membuat kita ingin senang dengan cara yang kita sukai (misalnya, senang), bahkan jika efeknya singkat, kemungkinan akan diulang. Ini adalah perubahan perilaku dan kebiasaan kita dan ini memiliki pasti dampak psikologis pada kami," katanya mengutip laman khaleejtimes, Selasa, 20 Oktober 2015.
Meskipun mengaku tak punya data ilmiah untuk membuktikan i-Dosing merupakan model candu baru, valeria tidak menutup kemungkinan obat digital ini akan berkembang di masa depan.
" Saya tidak tahu berapa banyak orang akan datang ke depan karena saya tidak tahu berapa banyak dari masalah itu, tapi saya sadar orang yang menggunakan jenis suara binaural dan gambar untuk merangsang otak," ujarnya
Valeri yang saat ini bekerja di Dubai Physiotherapy and Family Medicine Clinic Dubai, mengatakan meskipun jumlah kasus i-Dosing yang dilaporkan di seluruh dunia masih terbatas, dia menduga fenomena ini akan meningkatkan dalam beberapa tahun ke depan.
" Saya tidak yakin jika dianggap masalah nyata namun seperti itu bukan obat yang Anda konsumsi secara fisik, tetapi dapat menempatkan orang-orang dalam keadaan pikiran yang merangsang otak, sehingga ada efek psikologis saat menggunakan obat digital," dia kata. (Ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya