Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO
BNI Masuk Top 4 BUMN dengan Layanan Terbaik
Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari
8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan
Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?
Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian
Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi
AXIS Nation Cup 2026 Siap Digelar, Hadirkan Final Futsal Pelajar dan Deretan Musisi Indonesia
Ilustrasi
Dream - Stereotip adalah cara yang mudah dan cepat untuk mengkategorikan orang lain. Hal tersebut memicu kita untuk mengasumsikan orang berdasarkan lingkungan pergaulannya ketimbang diri mereka sebagai individu.
Sebagai manusia dewasa, Anda tentu sudah punya pertimbangan matang ketika menyimpulkan kondisi seseorang. Tapi tidak dengan anak-anak. Mereka bisa langsung percaya dan
menerima begitu saja informasi dan stereotip tentang kondisi orang lain dan lingkungannya karena belum punya pengalaman dan pengetahuan yang cukup.
Anak bisa melakukan pelabelan negatif tentu karena melihat orang-orang di sekitarnya. Bisa karena mencontoh orangtua, teman, membaca buku atau mendapat informasi yang salah. Untuk itu coba terapkan pola asuh yang bijak dengan tidak 'menularkan' sikap streotip pada anak.
" Jika kita sebagai orangtua ingin anak-anak menghargai orang lain sebagai individu, maka bantulah anak dengan memahami bagaimana stereotip ini bisa berkembang. Misalnya jika ia terlanjur percaya kalau hanya anak lelaki yang boleh bermain mobil-mobilan, coba ajak anak bermain mobil bersama. Begitu juga ketika anak lelaki bermain boneka, tak masalah. Selama hal itu dilakukan secara wajar," ujar Allan Wickenson, seorang psikolog.
Penelitian mengungkap, dalam mencegah perkembangan stereotip pada anak-anak bukan seberapa banyak yang kita katakan, tapi pada bagaimana kita mengatakannya. Jangan menyamaratakan pribadi yang satu dengan yang lainnya hanya karena berada pada satu grup sosial yang sama.
Terkadang anak salah mengartikan hal tersebut sebagai satu hal yang sama. Gunakanlah kalimat yang lebih spesifik untuk menerangkan sesuatu. Seperti contohnya " anak laki-laki ini suka bermain layangan," atau " anak perempuan ini suka membaca.
" Dengan tidak menyamaratakan dan menggunakan kalimat yang lebih spesifik, bisa membantu anak melihat dunia tidak dengan cara stereotip," kata Allan.
Laporan Gemma Fitri Purbaya
Sumber: Parents
Advertisement
Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO

Sepucuk Surat MSCI Bikin Rontok Bursa Saham RI

Tandyo Budi Revita: Petarung dari Pajang di Pucuk TNI AD

Limbah Makanan di Indonesia Sangat Tinggi, Pastikan Lakukan 5 Hal Ini di Rumah

IHSG Dibuka Menguat ke Level 5.940 di Tengah Aksi Hati-Hati Investor


Sering Lewatkan Sarapan? Kebiasaan Ini Diduga Bisa Meningkatkan Risiko Tekanan Darah Tinggi

Makan Malam Jam Berapa agar Metabolisme Tetap Sehat dan Tidur Lebih Nyenyak? Ini Kata Penelitian

Mengenal Aroma Parfum: Apa Arti Oud, Musk, Amber, hingga Vetiver dalam Bahasa Indonesia?

8 Kebiasaan di Dapur yang Diam-Diam Bisa Membahayakan Kesehatan, Nomor 1 Sering Dilakukan

Dua Petani Indonesia Masuk Daftar 100 Pahlawan Perempuan FAO


Sering Merasa Tidak Cocok Bergaul? Bisa Jadi Ini Penyebab yang Jarang Disadari