Hijabers Mom Community: Unjuk Diri Ibu-ibu Muslimah

Reporter : Ratih Wulan
Selasa, 3 Mei 2016 17:15
Hijabers Mom Community: Unjuk Diri Ibu-ibu Muslimah
Tahun 2011, Komunitas Hijabers Mom Community (HMC) ini berdiri. Tak cuma ajang berkumpul, HMC telah menunjukan kekuatan seorang wanita sekaligus ibu.

Dream - Perempuan memiliki potensi besar dalam pola perubahan tatanan menuju masyarakat lebih baik. Butuh upaya agar potensi mereka dapat tergarap.

Melihat potensi itu, Komunitas Hijabers Mom Community (HMC) mencoba hadir. Komunitas yang berdiri sejak 2011 lalu memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan sosial.

Salah satu yang menonjol yaitu dalam bidang fesyen. Empat pendiri komunitas ini berhasil membawa organisasi ini dikenal hingga memiliki ribuan anggota di seluruh Indonesia.

Dua founder komunitas ini, Hannie Hananto dan Monica Jufri sempat berkisah mengenai seluk beluk organisasi ini. Berawal dari perkumpulan pengajian, HMC menjelma menjadi organisasi profesional. Simak penuturan Hannie dan Monica kepada jurnalis Dream, Ratih Wulan Pinandu.

Founder HMC, Hannie Hananto

Bagaimana perkembangan HMC saat ini?

HMC berkembang ke arah sosial, kesepakatan semua cabang dan ketentuan dari pusat, kami harus banyak bergerak ke arah sosial. Anggota di seluruh Indonesia yang tercatat ada 8.000 sampai 10.000 di 23 kota.

Lebih menonjol pada fesyen?

Memang kebetulan empat founder HMC bergerak di bidang fesyen. Tapi kami semua dari lintas profesi. Ada yang notaris, pengacara, bidan dan dari banyak profesi.

Kami tidak membatasi hanya untuk desainer. Kebetulan kami yang desainer namanya cukup terkenal. Tapi, profesi lain juga cukup berkembang.

Selain fesyen, adakah bidang lain yang juga berkembang?

Di Batam itu yang paling kelihatan bergerak di bidang kue. Mereka memproduksi bakery.

Dari 23 kota, cabang mana perkembangannya paling bagus?

Sebenarnya hampir seragam sih. Tapi workshopnas di awal Mei kemarin (tahun lalu) dan saat kita mengadakan festival, cabang yang paling baik dan aktif itu Lombok. Sangat aktif. Mereka bikin koperasi, menggalang dana sendiri, dan baksos bisa jalan terus. Event-nya pun besar.

Kedua, Bali. Padahal, Bali itu banyak kasihannya. Karena mereka banyak menyesuaikan dengan lingkungannya. Ketiga, Sidoarjo, dekat dengan Surabaya.

 

1 dari 5 halaman

Menyokong Pemerintah dengan Berorganisasi

Bagaimana cara bergabung dengan HMC?

Masuk lewat pengajian. Karena HMC di seluruh Indonesia harus mengadakan pengajian sebulan sekali. Dari situ daftar saja sebagai member.

Sedangkan kalau untuk pemilihan ketua, dipilih berdasarkan kebijakan cabang. Kami nggak ikut-ikut. Kan pusat, kami sebenarnya sudah kebagian pensiun.

Tapi kalau founder sebagai penemunya nggak bisa diganggu gugat, tetap. Kalau saya kan ketua percabangan, mencapai semua cabang.

Dan karena ini organisasi non-profit, jadi kami harus sabar membimbing ibu-ibu, meminta waktu mereka antara keluarga dan pekerjaan. Sedangkan membagi waktu luang kan memang sulit. Jadi, kendalanya di situ.

Adakah kegiatan besar yang menyatukan seluruh cabang?

Itu tadi, workshop nasional setiap tahun dan terakhir digelar kemarin awal April di Malang, Jawa Timur.

Apakah hasil dari workshopnas kemarin?

Kami menentukan logo baru. Jadi, HMC harus lebih modern, lebih profesional, dalam artian sudah saatnya kerja dengan lebih teratur, lebih sistematik. Jadi, pembenahannya harus pelan-pelan. Nggak bisa langsung besar.

Apa perbedaan antara logo lama dengan yang baru?

Dengan adanya logo baru warna hitam putih berbentuk sharp gitu ya. Jadi, bentuk tegas kami berpacu lebih modern, lebih efektif cara kerjanya, lebih meminimalisir, pengaturan waktu yang lebih baik dan kekompakan dengan semua.

Apa kontribusi HMC terhadap Muslimah dan Negara?

HMC itu malah mengambil alih pekerjaan menteri peranan wanita lah. Karena kami memberdayakan perempuan, memberdayakan ibu-ibu rumah tangga dan membawanya ke arah yang lebih positif yang menjadi pekerjaan Menteri Pemberdayaan Perempuan.

Sudah ada pembicaraan terkait kerjasama dengan kementerian?

Sebenarnya pemerintah sudah cukup banyak membantu, dari kementerian. karena kita dianggap UKM. Padahal, menurut saya Menteri Pemberdayaan Perempuan harus lebih peka terhadap kehadiran kami.

Sejauh ini belum ada omongan dengan beliau karena belum ada jalannya ke sana.

 

© Dream
2 dari 5 halaman

Musfest dan Visi Indonesia Mendunia

Para desainer HMC sekarang lebih aktif di IFC (Indonesia Fashion Chamber) dibandingkan APPMI?

Sebenarnya kami berempat kompak. Saya, Irna Mutiara, Najua Yanti dan Monica Jufri, begitu satu pindah ke IFC akhirnya pindah semua. Bagaimana kami mengorganisasikan HMC kalau organisasi yang satunya terpecah-pecah? Kalau saya pikirannya begitu. Jadi, kompak sana dan kompak sini.

Anda dan para desainer HMC akan menggelar Muslimah Festival (Musfest). Bagaimana konsepnya?

Itu besar lah ada 400 brand. Sekarang booth tinggal 10, karena memang banyak sekali brand busana Muslim. Sepertinya memang industri busana Muslim meledak dan tidak dapat diprediksi. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Cuma memang ini PR pemerintah menjadi banyak sekali. Ini harus dikawal pemerintah. Dari regulasi, aturan dan termasuk HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual). Bagaimana kami bisa ekspor dan jangan memakai bahan impor saja. Kerjasama dengan garmen dan asosiasi industri garmen (APGAI).

Saya tergabung di FGD Bekraf dan kami mencanangkan Indonesia sebagai pusat mode busana Muslim dunia yang belum tahu kapan. Sekarang tidak boleh disebutkan tahun 2020. Karena itu masih panjang jalannya. Masih butuh koordinasi yang sangat panjang antara beberapa kementerian seperti Kementerian Perdagangan, Perindustrian, Pariwisata, Bekraf dan termasuk semua komunitas.

Siapa pencetus target Indonesia jadi pusat busana Muslim dunia 2020?

Dari salah satu kementerian. Pariwisata kalau nggak salah. Tapi, pencetusan kan tidak sekadar dicetuskan dan harus diwujudkan. Itu tidak gampang, perlu usaha. Nah, usaha ke situ bukan hanya kami dan pelaku yang harus bergerak, pemerintahan harus bergerak.

Sepertinya Bapak Jokowi (Presiden Joko Widodo) sekarang lebih menggerakkan arus untuk mewujudkan tagline pusat busana Muslim dunia tadi. Jadi, semua lembaga pemerintahan harus bergerak.

Sejauh apa upaya yang sudah dilakukan pelaku industri fesyen Muslim?

Mungkin baru 40 persen. Karena itu harus dibikin council-nya dulu untuk pengawasan. Kerjasama dengan APGAI, retail, segala macam, bikin market place, sebenarnya pusatnya mau di Jakarta atau di Bandung.

Untuk riset dan pengembangan busana Muslim sudah sejauh mana perkembangannya. Mau busana Muslim yang seperti apa? Bahan seperti apa? Dan itu ternyata kompleks. Bukan cuma survei dan dibicarakan, namun harus dikerjakan. Nanti kalau tidak seperti itu. kita keduluan Istanbul, Turki.

Kabarnya Anda akan mengikuti fesyen show di Turki bersama IFC?

Ada enam desainer yang berangkat, selain kami berempat (Hannie, Najua, Monica, Irna). Ada mom Inda dari Sidoarjo dan ada satu lagi saya lupa. Jadi, ada yang cuma ikut IFC dan ada juga yang cuma ikut HMC saja. Kami gabungan saja dan berangkat ke Istanbul tanggal 13-15 Mei.

Satu desainer akan memamerkan berapa koleksi?

Rata-rata bawa empat baju dan akan ada booth. Jadi, dibawa juga baju-baju untuk jualan.

Konsep yang akan Anda bawakan sendiri bagaimana?

Saya akan bekerjasama dengan Pemerintah Kota Kediri untuk mengusung tenun Kediri. Ibu Walikotanya sangat ingin membranding tenun Kediri. Jadi, akan saya bawa ke sana.

Cutting-nya itu seperti khas saya lah, simpel. Yang lain juga akan membawakan koleksi sesuai dengan karakter masing-masing. Tapi, rata-rata koleksi untuk Ramadan.

Ada rencana mengeluarkan koleksi bersama saat Ramadan?

Iya, nanti sekalian di Musfest. Jadi, jalan dari Istanbul ke Musfest, lalu lanjut launching di Central.

Apa yang ingin Anda raih usai dari Turki nanti?

Ya, kalau mau ngomongin pusat busana Muslim dunia nggak akan tahu kalau kita nggak keluar. Saat ini garis rancang atau desain kita bisa dibilang paling oke. Tapi itu untuk saat ini ya. Dan kita nggak boleh terlalu percaya diri.

Saat ini mungkin paling bagus. Tapi siapa yang tahu lima tahun yang akan datang, karena mereka sangat aktif.

Turki dan Malaysia itu semua bahkan rata-rata aktif. Negara-negara itu fokusnya ke busana Muslim.

Indonesia malah saya lihat busana Muslimnya sudah mulai turun. Dalam artian busana Muslimnya sudah mulai jenuh. Kenapa begitu? Karena tidak ada etika antara sesama desainer busana Muslim. Jadi, jiplak-jiplak-jiplak, itu akan membuat jenuh. Begitu keluar dari satu fashion show lalu akan keluar satu di Thamrin City seperti itu. Jenuh nggak?

Secara logika awam, orang akan berpikir busana Muslim kok gini-gini saja ya. Ini kan sama dengan yang ada di Thamrin City. Padahal bukan, ini malah penciptanya. Tapi karena diperbanyak, jadi muncul keseragaman tanpa perkembangan, lalu stuck. Itu berbahaya.

Jika kondisinya seperti ini, siapa yang harus bertanggungjawab?

Saya rasa kalau pemerintah tidak bisa ikut campur sejauh ini. Seharusnya asosiasi, namun biasanya ada desainer atau brand tidak mau dianggap mencontek. Mereka selalu berdalih, ada ungkapan tidak ada desain yang benar-benar orisinil. Jadi, desain yang sudah ada dikembangkan lagi.

Bukan begitu seharusnya. Setiap desainer dan setiap brand harus punya karakter. Mau tidak mau, kita harus mendalami karakter kita. Nggak bisa latah, apa yang sedang 'in' saat itu. Kalau busana Muslim bisa stuck, nggak berkembang.

Sekarang busana Muslim gayanya seperti Rani Hatta. Tahun lalu gayanya seperti Dian Pelangi. Lalu seperti Ria Miranda. Bagus nggak yang seperti itu? Jadi nggak banyak pilihan kan.

 

3 dari 5 halaman

Sinergi Pusat dan Cabang

Ketua Harian HMC Monica Jufri

Kegiatan apa yang rutin digelar HMC?

Kalau di pusat, sekarang yang rutin pengajian dan baksos. Tapi kalau di cabang-cabang lebih bervariasi lagi. Jadi, waktu itu ada acara 'Cantik Berkain', seperti apa tutorial memakai kain-kain yang cantik tapi dikemas dalam satu event besar.

Kemudian cabang Lombok mendukung film ‘Kalam-Kalam Langit’. Peran mereka besar sekali di sana. Tapi tetap, semua itu harus mengedepankan pengajian dan baksos.

Di tingkat pusat, adakah pengurus lain selain founder?

Ada ya. Karena kita lintas profesi. Jadi, ada yang EO dan tergabung di komite pusat. Tujuan utamanya, pusat menaungi yang cabang. Nanti saat event Musfest akan ada anggota komite dan ada pula anggota dari cabang, juga nggak hanya dari fesyen saja.

Di sini kita juga memberikan tempat untuk teman-teman yang punya hobi di kuliner. Bulan Mei ini kita bekerjasama dengan IFC. Kami (Monica, Hannie, Irna dan Najua) juga pengurusnya. Selain itu, nanti melibatkan teman-teman di luar desainer. Yang di food juga ayuk, yang punya keahlian di sini tempatnya. Fokusnya pada fesyen dan kuliner.

Bagaimana cara mendapatkan informasi seputar pengajian HMC?

Kami pengajian di rumah salah satu komite. Kalau yang mau gabung, datang saja. Sebelum pengajian, kami blast di semua media sosial seperti Twitter, Facebook dan Instagram.

Konsep pemberdayaan perempuan seperti apa yang ingin diusung?

Kami lihat member yang aktif, tidak bisa cepat. Anggota kami ada yang berpotensi jadi model dan kami sering pakai kalau pas membutuhkan. Yang bisa jadi member itu perempuan yang sudah menikah atau sudah berumur 25 tahun.

HMC dan IFC tampaknya cukup harmonis. Bagaimana pengaruh HMC di IFC?

Empat founder HMC ini aktif sebagai pengurus IFC, dan Alhamdulillah, National Chairman, Ali Charisma dan semuanya welcome untuk join. Seperti Mufest itu bisa join karena bidangnya cocok dengan HMC. Jadi, kita diberi ruang dan kesempatan untuk bekerjasama.

Begitu pula dengan event yang ke Turki itu, yang Istanbul Modest Fashion Week, gabungan dari HMC dan IFC. Kami dari HMC yang bergerak di bidang fesyen dan merasa punya kesempatan untuk berangkat ke sana dan punya kemampuan, ya, kami gabungkan.

Persiapan Mufest sudah sejauh mana?

Alhamdulillah, sebenarnya tidak lama persiapan segala macam. Dalam waktu yang pendek respon lumayan bagus. Ide awalnya itu dari salah satu program IFC. Karena ini Muslim dan kita dilihat sebagai komunitas yang membernya banyak, makanya diajak kerjasama.

Untuk fesyen hijab sendiri, pengaruh HMC seperti apa?

Fesyen hijab memang belum sedominan fesyen konvensional yang mungkin kalau dari seluruh daerah baru mencapai 35 persen. Alhamdulillah, banyak support untuk kita setelah IFC berdiri.

Terkait visi menuju pusat busana Muslim dunia, apa peran yang diambil HMC?

HMC kan organisasi lintas profesi. Jadi, tidak mengkhususkan diri di fesyen saja. Tapi foundernya saja yang berempat orang fesyen. Jadi, kesempatan yang paling besar ke sana. Tanpa disengaja pun member-member kita banyak yang bergerak di bidang fesyen. Jadi, kontribusinya cukup besar.

 

© Dream
4 dari 5 halaman

Wadah Pemersatu Muslimah

Ke depan, apalagi yang ingin diraih HMC?

Yang pasti sih kami ingin menyatukan Muslimah, khususnya di Indonesia dan tidak menutup kemungkinan di luar negeri. Tapi kami ingin Muslimah kekuatannya besar. Kami mau di situ dulu. Kami nggak mau muluk-muluk dulu. Bersatu dan besar bersama, berbagi, saling memberi.

Adakah anggota HMC di luar negeri?

Sejauh ini, orang Indonesia yang menjadi anggota yang tinggal di luar negeri sudah ada, tapi belum ada HMC. Salah satu member dari Malang tinggal di Doha, Qatar. Ada juga yang dari Medan lalu pindah ke Malaysia. Sebenarnya ingin membuat HMC Malaysia tapi masih mempelajarinya.

Pernah kesulitan meng-cover seluruh anggota?

Kami memberikan otonomi ke masing-masing cabang. Kami ingin membuat simpel. Jadi, setiap daerah diberi keleluasaan. Meskipun kami berjauhan, tapi semua ketua disatukan dalam grup WA (WhatsApp). Hampir setiap hari kami ‘say hello’ dan sering sharing untuk meminimalisir kesulitan di daerah.

Kami membuat struktur itu nggak ribet. Kami kembalikan ke karakter ibu-ibu, multitasking segala sesuatunya. Prosedural pun tidak kita pakai.

Kegiatan selain workshopnas, kami mencoba mempersatukan semua cabang dengan mengadakan acara yang bekerjasama dengan organisasi lain. Salah satunya adalah Mufest.

Bagaimana persiapan bidang kuliner?

Kuliner belum sebesar fesyen, masih home industri banget. Ada yang masih coba-coba. Tapi tetap kita beri ruang biar ada percaya dirinya. Misal belum ada dananya, oke, dari HMC berikan satu tenda biar mereka ada ruang. Kami berusaha mensupport seperti pemberdayaan UKM di segala bidang. Apa saja yang bisa ditonjolkan.

 

5 dari 5 halaman

Menapak Turki, Mengenalkan Indonesia ke Panggung Dunia

Untuk persiapan ke Istanbul, apakah ada kendala?

Insya Allah masih persiapan karena membutuhkan dana yang tidak sedikit. Ada salah satu teman kita di Istanbul terlibat dalam penyelenggaraan Istanbul Modest Fashion Week. Dia networking internasionalnya bagus dan secara nggak langsung sering mempromosikan modest wear Indonesia.

Setelah kami pelajari, yang akan hadir di sana itu memang pelaku industri modest fesyen. Lalu karena itu makanya kita mulai juga dengan Mufest.

Apa yang diharapkan sepulang dari Turki?

Ada exhibition. Jadi, kami ingin mempelajari pasar Turki. Istanbul termasuk kota transit, kota wisata yang menghubungkan antara Eropa dan Asia. Jadi, strategis kalau kami mau memperkenalkan lebih jauh tentang modest fesyen Indonesia. Fesyen shownya sendiri nggak banyak, hanya 3-4 baju, tapi ada exhibition.

Konsepnya nggak jauh dari flowing dan feminim. Karena begitu kita mencari informasi di Turki dan Eropa, orang-orang sukanya seperti apa, meskipun kita tidak meninggalkan identitas kita sendiri.

Ada sentuhan batik, sejauh ini tidak mengkhususkan batik dari mana. Tapi, akan banyak membawakan batik-batik Pekalongan yang identik dengan warna pastel. Konsep ke industri fesyen yang ingin kita kejar. Jadi, dalam pemakaian batiknya pun harus yang mudah dicari karena nanti cenderung ke ready to wear.

Saya juga cari info ke teman yang gabung di webstore hijab terbesar di dunia, Modanisa. Kami tidak bisa terlalu idealis ya. Apapun yang terjadi memaksakan mau bawa yang seperti ini. Kami akan lihat selera pasar walaupun belum tahu situasinya. Kami belajar, ternyata di Turki lagi suka warna pastel.

Secara global tidak beda jauh dengan Indonesia. Cuttingnya flowing, tapi lebih fitted, lebih ketat ya. Hijabnya pun hanya diikat ke belakang. Tapi aku nggak ikutin yang itu.

Di event ini mereka juga mendatangkan blogger buyer dan konsumen. Jadi, B to C untuk lihat peluang dan selera pasar di sana. Sedangkan B to B untuk ekspansi. Kami mau lihat barang kami diterima nggak sama pasar sana.

Tapi di atas semua itu, kenapa kami ingin pergi ke Istanbul? Karena pemerintah mencanangkan 2020 sebagai pusat mode dunia. Kalau kita tidak rajin memperkenalkan ke luar, bagaimana kita bisa dikenal dan kita tidak bisa mengklaim sendiri kan. Karena kiblat fesyen itu pengakuan dari luar, bukan dari diri sendiri.

Makanya kami ingin membawa fesyen Muslim Indonesia secara kontinu ke event besar di luar negeri, kalau mau dikatakan besar di dunia. Ini juga baru pertama kali diadakan di Turki.

Apa hambatan mewujudkan Indonesia sebagai kiblat fesyen Muslim dunia?

Yang ingin menjadi kiblat modest fesyen Muslim dunia bukan Indonesia saja. Turki saingan yang terkuat, bahkan sangat kuat. Kami tidak mau ini jadi beban. Karena 2020 sebentar lagi dan apa yang kami kerjakan belum terlalu terlihat.

Lalu, apa lagi yang harus dievaluasi?

Negara kita harus serius branding ke luar negeri dan mematangkan yang di dalam. Untuk fesyen Muslim sudah mulai dari Dian Pelangi yang sudah dikenal di internasional. Tapi hanya sebagai person, belum menyeluruh.

Branding fesyen konvensional terlalu banyak saingannya. Jadi, tadinya fesyen Muslim itu yang menjadi kekuatan kita karena kita yang paling colourfull, yang nggak hanya satu gaya.

Tapi ternyata sekarang tidak hanya dari Indonesia saja kan. Amerika pun sudah mulai. Dolce Gabana sudah bikin hijab. Vivienne Westwood pun bertanya tentang market fesyen dan PR kita semakin besar.

Bagaimana dengan peran pemerintah sendiri?

Dukungan pemerintah perlu diperkuat agar semakin bersinergi. Pemerintah sudah banyak memberi dukungan, tapi belum menjadi prioritas. Masih butuh adaptasi lagi. Asosiasi kita makin berusaha keras. Jadi, semakin bersatu semakin kuat.

© Dream
Beri Komentar