Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Kalau Semua Informasi Ada di Socmed, Apa Alasan Kita Membaca?
Bisa Nggak Wahyu Ningsih Jadi CEO Microsoft?
Jika Guru Digaji Lebih Layak, Apakah Kualitas Pendidikan Indonesia Akan Meningkat?
Dunia Endgame Gita Wirjawan
Dunia Endgame Gita Wirjawan
(Foto: Pinterest)
Dream - Belakangan ini marak digaungkan kampanye ecofashion sebagai tren fashion yang memakai bahan-bahan alami dan ramah lingkungan. Sebagai warisan dunia yang sudah terdaftar dalam UNESCO, produk fashion batik ikut menggunakan ecofashion dalam proses pewarnaannya.
Dengan keragaman komponen hayati yang dapat dimanfaatkan sebagai pewarna alam, ecofashion dalam kain batik bukan masalah besar. Bahkan pewarna alam tersebut dapat dengan mudah ditemukan di lingkungan sekitar kita.

"Warna alam ini mempunyai keunikan sendiri. Semua keaneka ragaman hayati yang ada di lingkungan hidup kita bisa kita manfaatkan dengan sebaik baiknya," Jelas Nita Kenzo, Pengrajin batik sekaligus desainer batik Jawa beberapa waktu lalu.
Berbagai macam bahan alam yang bisa didapatkan di Indonesia dapat dijadikan pewarna Alam. Kayu batang mahoni, kulit kayu duwet, dkayu tinggi, daun mangga, kulit jeruk julawe, sampai indigo adalah beberapa contohnya.
Dengan adanya tren Ecofashion pada batik Indonesia ini, Nita Kenzo berharap masyarakat Indonesia dapat tetap trendy dan fashionable menggunakan busana yang ramah lingkungan.

"Warna alam harus dikembalikan lagi, dunia menganjurkan semua kerjinan tangan diganti menjadi warna alam, agar ekosistem dunia tidak rusak dengan limbah sintetik namu tetap trendy untuk dipakai," Kata Nita.
Sedangkan untuk prosesnya sendiri, diakui Nita memang membutuhkan teknik pencelupan yang lebih lama dan lebih banyak dibanding pewarna Sintetik.

"Proses (warna alam)nya berulang kali. Produksinya juga cukup lama. Proses pencelupan bisa mencapai 7 sampai 20 kali. Kalo sintetik 2 kali saja sudah cukup," Jelas Nita Kenzo kembali.
Berbeda dengan pewarna sintetik yang akan menghadirkan warna terang dan strong pada kain batik. Meskipun proses pencelupan mencapai 20 kali, warna alam yang akan melekat pada kain batik tetap teduh dan soft sehingga akan nampak elegant dan lebih berkelas.
(Sah/Laporan: Awalendi Ema Pajarini)
Advertisement

Benarkah Kecerdasan Manusia Menurun? Studi Ungkap Tren Mengkhawatirkan Sejak 2012

Mengapa Anak Suka Makan Upil? Sains Punya Penjelasan di Balik Kebiasaan Ini

Kurang Tidur Bisa Ganggu Gula Darah dan Kesehatan Jantung, Olahraga 10–15 Menit Ini Bisa Membantu

Sering Buang Angin Tanpa Sebab Jelas? Kebiasaan Mengunyah Permen Karet Bisa Jadi Pemicunya

Sering Minum Boba? Ini 5 Dampaknya bagi Tubuh, dari Gula Darah hingga Asupan Antioksidan

IHSG Dibuka Menguat Tipis, Investor Waspadai Aksi Profit Taking

3 Jenis Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga, Menurut Ahli Gizi