7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?
4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele
Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?
Enrina Diah (Cynthia Amanda Male/Dream)
Dream - Kepuasan akan bentuk tubuh 'ideal' terus dicari perempuan lewat estetika kecantikan. Mulai dari perawatan hingga operasi ditempuh demi bentuk tubuh sempurna.
Salah satunya memperbaiki ukuran payudara. Ukuran payudara terlalu besar, terlalu kecil atau bentuknya yang kurang ideal menjadi alasan utama untuk melakukan operasi.
Menurut Enrina Diah, Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi Estetik dan Konsultan Kraniofasial, memperbaiki ukuran payudara biasa dilakukan perempuan usia 19-65 tahun. Caranya pun beragam.
“ Prosedur operasi yang aman adalah menggunakan implan atau fat transfer. Bisa juga dengan filler, tapi cairan yang digunakan kurang aman untuk kesehatan payudara," ujar Enrina di Ultimo Clinic, Rabu 9 Mei 2018.

(Enrina Diah, Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi Estetik dan Konsultan Kraniofasial/Foto: Cynthia Amanda Male/Dream)
Implan diklaim sebagai cara paling aman karena menggunakan high strength cohesive gel yang biasanya ditanam di bawah otot.
“ Implan bersifat lebih mudah untuk ditanam dan dilepas lagi di kemudian hari. Karena dia bersifat seperti gel yang tidak akan menyatu dengan otot," katanya.
Sementara fat transfer, dilakukan dengan cara memindahkan lemak di perut ke payudara. Hal ini cukup aman dilakukan karena memakai zat yang sudah ada di dalam tubuh.
“ Prosedur ini jadi yang termurah dan paling sering dilakukan. Tapi, lemak itu bisa mengeras dan menyatu dengan payudara. Makanya lebih sulit dikeluarkan,” ungkapnya.
© Dream
Dream - Kemudian filler menjadi satu-satunya cara berbahaya. Sebab banyak kasus yang terjadi dan berakibat fatal.
“ Cairan yang dimasukkan ke dalam payudara dengan cara suntik filler, dinilai kurang aman. Karena cairan itu bisa menyumbat pembuluh darah ke jantung dan menyebabkan benjolan, infeksi atau kematian,” jelasnya.
Ketiga teknologi ini sudah hadir sekitar lebih dari 10 tahun lalu. Namun, masih terus diuji keamanannya bagi pasien.
Hingga kini, implan masih menjadi prosedur paling aman bagi yang ingin melakukan operasi payudara. Fat transfer dianjurkan bagi yang ingin memperbaiki ukuran bokong.
“ Awalnya filler dilarang di Amerika. Sekarang sudah dilarang di Eropa. Semoga di Indonesia Multi diedukasikan untuk tidak menjalani prosedur tersebut,” tutupnya. (ism)
Advertisement
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?