Rabu, 21 Oktober 2026 Cari

Jangan Jadi Orangtua "Helikopter", Ini Efek Buruknya

Reporter : Syahid Latif
Selasa, 1 November 2016 18:02
Jangan Jadi Orangtua
Mereka biasanya sangat mengontrol pilihan-pilihan sang anak dan cenderung terlalu melindungi.

Dream - Istilah orangtua `helikopter` atau `helicopter parents` diperkenalkan pertama kali oleh Dr. Haim Ginott's pada 1969 dalam bukunya Parents & Teenagers. Sebutan tersebut digunakan remaja untuk orangtua yang selalu mengatur kehidupan anaknya di segala sisi.

" Mereka biasanya mengambil terlalu banyak tanggung jawab, baik dari pengalaman
anak-anak, hingga keberhasilan atau kegagalan," kata Carolyn Daitch, Ph.D. Director Center for the Treatment of Anxiety Disorders dan penulis buku Anxiety Disorders: The Go-To Guide.

Orangtua seperti ini sering disebut juga dengan istilah " overparenting" . Apapun pilihan-pilihan sang anak selelu ditentukan dan biasanya cenderung terlalu melindungi. Orangtua `helikopter` tak ingin anaknya melakukan kesalahan sama sekali.

" Dalam masa balita, orangtua helikopter biasanya terus membayangi anak, selalu bermain dengan dan mengarahkan perilakunya, sehingga si anak tak pernah main sendiri. Untuk tingkatan sekolah dasar, orangtua helikopter terlihat dari bantuannya yang berlebihan saat anak mengerjakan pekerjaan rumah atau tugas sekolah. Bahkan hingga memutuskan ekstrakurikuler
yang harus diikuti anak," kata Ann Dunnewold, Ph. D., psikolog dan penulis buku Even June Cleaver Would Forget the Juice Box.

Banyak kecenderungan orangtua helikopter dimulai dengan niat baik. Mereka ingin terlibat di setiap langkah kehidupan anak tapi kemudian bersikap berlebihan dan penuh dengan
ketakutan jika si anak mengalami kegagalan karena dirinya.

Kondisi ini bisa menyebabkan sederet dampak buruk pada anak di kemudian hari, seperti berikut:

1. Penurunan kepercayaan diri dan harga diri
Masalah utama dengan orangtua helikopter adalah bahwa hal itu menjadi bumerang. Bukan meningkatkan kepercayaan diri anak tapi justru sebaliknya. Anak akan merasa hal-hal yang dilakukannya bukan untuk dirinya tapi orantuanya. Mereka juga beranggapan semua masalah yang ditimbulkannya akan dibereskan orangtua. Anak pun jadi tak belajar bagaimana engatasi kehilangan, kekecewaan, atau kegagalan. Hal ini membuat kepercayaan dirinya menurun mengalami masalah dalam hal menghargai dirinya sendiri. dan orang lain.

2. Peningkatan kecemasan.
Sebuah studi dari University of Mary Washington telah menunjukkan bahwa orangtua " helikopter" berdampak tinggi pada kecemasan anak dan depresi. Anak akan mudah merasa panik jika mengalami masalah tanpa kehadiran orangtuanya, atau mungkin mereka malah ingin menjauhi orangtua, karena merasa cemas jika berada didekatnya. Kecenderungan itu bisa memicu depresi parah.

3. Kurangnya keterampilan hidup
Keterampilan hidup tak bisa didapatkan di bangku sekolah. Anak harus diajarkan mandiri dalam segala hal, seperti, membeli keperluan bulanannya sendiri, pergi ke bank, mengurus administrasi kependudukan dan masih banyak lagi. Jika orangtua selalu membantu anak akan mengalami kesulitan jika harus hidup sendiri, dan hal ini bisa memicu masalah yang lebih besar saat mereka dewasa bahkan hingga berumah tangga.(Sah)

Beri Komentar