Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Foto: Pixabay.com
Dream - Aksi pembobolan kartu kredit di Argentina benar-benar mengejutkan penduduk setempat. Si pelaku ternyata hanya berprofesi sebagai seorang penjual koran di Buenos Aires, namun memiliki otak encer dalam bermain dunia maya.
Pelaku membobol lusinan kartu kredit dan menggunakannya untuk melakukan sejumlah pembelian menggunakan pinjaman milik korban.
Melansir Oddity Central, otoritas pemberantasan kejahatan di Argentina awalnya menerima keluhan tentang ratusan pembelian ilegal. Para penegak hukum ini awalnya berpikir tengah berurusan dengan kelompok peretas terorganisir.
Namun hasil penyelidikan mengarah pada sebuah rumah yang dihuni seorang penjual koran berusia 56 tahun di kota Villa Madero di Buenos Aires.
Dilihat dari skala pelanggaran keamanan, tampaknya tidak mungkin pembobolan kartu kredit tersebut hanya dilakukan oleh satu orang. Namun polisi lagi-lagi salah menduga.
Saat menggeledah rumah pria bernama Fernando Falsetti itu, mereka menemukan sebuah buku catatan kecil berisi algoritma yang ditulis tangan. Algoritma itulah yang membuat sang penjual koran dapat mengetahui CVC (Kode Verifikasi Kartu) para korbannya.
Selama ini, Fernando bekerja sebagai penjual koran dari pagi hingga siang hari. Jika Fernando sedang tidak ada di lapaknya, maka berarti dia sedang sibuk mencari cara untuk memecahkan kode verifikasi kartu kredit.
Penyelidik menemukan bahwa dia dapat mengetahui CVC kartu yang diterbitkan oleh bank Argentina tertentu dengan menganalisis nomor kartu dan tanggal kedaluwarsa.
Pakar keamanan tercengang menemukan algoritma setebal 30 halaman yang dikembangkan oleh Fernando dan ditulis di sebuah buku catatan tua.
Pola-pola yang bisa dia identifikasi dan tulis di buku catatannya itulah yang membuat penyelidik curiga bahwa Fernando bukan hanya penjual koran biasa.
Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata Fernando merupakan seorang insinyur komputer terlatih yang berspesialisasi dalam sistem dan telekomunikasi. Bahkan untuk seorang insinyur komputer, algoritmanya dinilai sangat mengesankan.
Setelah mengetahui cara membobol kartu kredit, dia menggunakannya untuk membeli langganan televisi satelit dari kios korannya sendiri, sehingga dia juga bisa mendapatkan komisi dari mereka.
Mungkin menurut Fernando, itu adalah jumlah yang relatif kecil dan kebanyakan orang tidak akan menyadarinya.
Namun, pikiran Fernando rupanya meleset. Banyak korbannya yang ternyata memperhatikan jumlah yang dipotong dari kartu kredit mereka.
Ratusan korban memberi tahu perusahaan televisi satelit bahwa mereka tidak pernah membeli langganan dan ingin membatalkannya. Perusahaan pun segera melaporkan kejadian tersebut pada pihak berwenang.
Fernando yang sama sekali tidak berusaha menutupi jejaknya, menyimpan semua tagihan di rumahnya dan sangat mudah ditemukan oleh penyelidik.
Kabarnya, saat ini Fernando telah dibebaskan, tetapi penyelidikan terus berlangsung dan dia mungkin masih harus menjalani hukuman penjara karena perbuatannya tersebut.
Media Argentina melaporkan bahwa hasil pembobolan kartu kredit yang dilakukannya mencapai US$8.260 atau sekitar Rp119,4 juta.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya