Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Survei Poltracking: Gerindra Jauh di Atas PDIP-Golkar, Bagaimana PSI?
BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14
Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia
Ilustrasi (Sumber: Http://realfoodforlife.com/)
Dream - Salah satu di antara cara Allah untuk meyakinkan umat manusia tentang kebenaran para nabi yang Dia utus yakni, Allah berikan bekal kepada mereka berupa mukjizat.
Sebelum Allah memerintahkan Musa untuk menghadapi Firaun, Allah bekali beliau dengan mukjizat. Ketika Allah berbicara dengan Musa di Bukit Tursina, Allah tunjukkan kepada Musa berbagai mukjizat yang dia miliki, mulai dari tongkat yang berubah menjadi ular, tangan yang bisa mengeluarkan cahaya putih, dan sebagainya.
Demikian pula Nabi Muhammad SAW. Allah memberikan bekal kepada beliau berbagai macam mukjizat untuk membuktikan kebenaran beliau. Di antaranya, Alquran yang bisa meluluhkan hati orang musyrik yang mendengarnya, peristiwa Isra Miraj, terbelahnya bulan, keluarnya air dari jari-jari beliau, terdengarnya suara tasbih dari makanan, batu memberi salam kepada beliau, terdengarnya suara rintihan batang kurma yang merindukan beliau, hingga kebenaran berita masa depan yang beliau sampaikan.
Para ulama membukukannya dalam Kitab Dalail an-Nubuwah. Salah satu di antara mukjizat beliau adalah keindahan akhlak beliau. Ketinggian budi pekerti dan akhlak beliau, yang hampir tidak mungkin bisa dilakukan manusia biasa, selain orang yang derajat takwanya sangat tinggi.
Salah satu bukti keindahan akhlak beliau yaitu, Nabi tidak pernah mencela dan mengomentari makanan.
Sahabat Abu Hurairah RA menceritakan, " Nabi SAW tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau selera maka beliau memakannya, dan jika tidak selera maka beliau tinggalkan." (HR. Ahmad 9755, Bukhari 3563 dan Muslim 5504)
Jangan Anda berpikir, mencela makanan hanya terkait penilaian enak, tidak enak, menjijikkan, atau komentar miring lainnya.
Ternyata lebih dari itu. Sebatas menyebut asin, kurang asin, kemanisan, kecut, yang umumnya dilakukan masyarakat kita, ternyata masuk dalam cakupan hadis di atas.
Selengkapnya baca di sini.
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


10 Pengganti Garam yang Bisa Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Bahasa Apa yang Digunakan Oleh Orang Sriwijaya Pada Masa Lalu?

Ambruk Lagi Dihantam Sentimen MSCI, IHSG Longsor di Bawah Level 5.000 di Sesi Pembukaan

Antisipasi Efek Pengumuman MSCI, Otoritas Bursa Pangkas Aturan Batas Bawah Auto Rejection jadi 7%

Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?


Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya