Cara Menyiapkan Mental Sebelum Melakukan Downsizing atau Downgrading, Hal Apa yang Harus Jadi Prioritas?
5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun
6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang
Gula Tebu vs Sirup Jagung Tinggi Fruktosa, Mana yang Lebih Baik untuk Gula Darah?
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia
Kesepian Bisa Mengurangi Hampir 6 Tahun Hidup Sehat, Pria Lebih Rentan Mengalami Dampaknya
7 Makanan yang Mengandung Zat Besi Lebih Tinggi daripada Daging Merah, Ada Tahu dan Bayam
Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan
Desainer Coreta Louise (Foto : Dok. Coreta Louise)dre
Dream - Desainer Coreta Louise memperkenalkan batik khas Sulawesi Utara di panggung New York Fashion Week. Wanita asal berusia 49 tahun mengaku rancangannya terinspirasi dari wanita penjual jamu gendong.
" Untuk bentuk busana yang ditampilkan, terinspirasi dari mbok jamu. Tangan di baju dibuat terpisah seperti mbok Jamu menggendong bakul," kata Coreta Louise dalam keterangan tertulisnya, Rabu 12 September 2018.

Foto : dok. Coreta Louise
Coreta Louise membagi menjadi tiga kategori pada rancangannya ready to wear, evening gown dan kebaya dengan tampilan modern, classy dan elegan.
Dalam rancangannya, Coreta menggunakan enam bahan untuk seluruh ranjangan yang ditampilkan seperti Laser Cut Leather, Organza, Gazar, Liquid, Polyester, Linen.
Dream - Sementara untuk detail, Coreta menggunakan kulit laser cut yang kemudian dijahit satu persatu ke baju dengan jahitan berbentuk zig zag. Lalu untuk detail lain Coreta menggunakan embroidery atau bordir.
" Laser cut itu memiliki tulisan sanskrit Jawa, hanacaraka. Kemudian laser cut motif bunga sepatu yang memberi simbol kekayaan Indonesia, terutama pulau Jawa," tuturnya.

Foto : dok. Coreta Louise
Dalam rancangannya, Coreta Louise Kopoyos menampilkan kombinasi warna the glam, gold, dan black serta tekstur batik khas Sulawesi Utara (Sulut). Rancangannya itu dibuat menyesuaikan dengan kebutuhan pasar yang ada di Amerika Serikat.
" Kalau di Amerika, juga di Eropa, mereka tidak suka yang terlalu ramai, jadi saya memadukan tradisional batik sesuai dengan selera mereka," tuturnya.

Foto : dok. Coreta Louise
Wanita kelahiran Manado 13 Desember 1968 ini merasa bersyukur karyanya diterima sangat baik saat menampilkan kurang lebih 12 rancangan Couture kontemporer di New York Fashion Week.
" Mereka antusias, hingga saat ini sudah terjual beberapa ke Jepang, Paris dan Indonesia kemudian sudah ada pesanan untuk produk turunannya," tuturnya. (ism)
Advertisement
Jadi Pengajar di AS, Jusuf Kalla Bahas Akar Konflik Dunia

Sentuh Level 5.000, IHSG Mulai Berusaha Bangkit Usai Dibuka Melemah di Sesi Pembukaan

BEI Sesuaikan Lagi Aturan Batasan ARB untuk Saham Harga Rp11-Rp14

Kalau Sains Penting, Kenapa Terasa Asing?

Sustainability dan Hidup Kita, Pengertian, Prinsip, dan Penerapannya


Benarkah Indonesia Saat Ini Sedang Mengalami Industrialisasi Gelar? Lalu Apa Dampaknya?

4 Tanda Awal Penyakit Jantung pada Perempuan yang Sering Dianggap Sepele


Bukan Hiu Putih, Ini 4 Hewan Paling Mematikan di Dunia dan Bahayanya bagi Manusia


5 Latihan Tanpa Beban yang Bisa Membantu Membentuk Otot Setelah Usia 50 Tahun

6 Pelajaran Hidup Gen Z yang Perlu Dipelajari Oleh Generasi yang Lebih Tua, Bantu Hidup Lebih Tenang